Langsung ke konten utama

Mimpiku

Mataku terpejam sebentar, namun aku sudah melihat wajahmu mengukir senyum.
Dengan baju batik dan sarung kesukaanmu, kau hadir dalam mimpiku. Pria yang selalu kusebut dalam doa untuk kebaikan disisi-Nya, memintakan surga istimewa untukmu, dan menghadiahkan satu untaian surat agar kau tak merasakan rindu sepenuhnya. Kau adalah Ayah tercintaku.
Sudah tugasku sebagai putrimu, untuk membuatmu tak merasakan keresahan dan hanya kebahagiaan yang selalu menyelimutimu tiap melihatku. Beribu maaf, jika aku belum menjadi sholehah untukmu Yah, hingga kini aku selalu berusaha. Berusaha membalas segala yang pernah diberikan olehmu untukku, yang tak bisa kuhitung meski dengan jangka waktu seribu tahun pun.
Aku melihat matamu mengerjap, sama persis kala kau melihatku sewaktu dulu, mata yang menyiratkan keteduhan, manik-maniknya yang memancarkan cahaya dan siapapun yang melihatnya seperti sebuah bulan datang di senja hari, indah dan menenangkan.
Tanganku coba meraihmu, aku takut dadaku kembali sakit saat kau pergi untuk kesekian kalinya didalam mimpi.
Aku takut, aku takut kehilanganmu, Yah.
Aku takut, wajahmu yang bersinar tidak lagi bisa kulihat,
Aku takut, matamu yang meneduhkan menghilang dan menghancurkan ketenanganku,
Aku takut, senyummu yang terukir indah sirna begitu saja.
Aku takut. Aku terlalu takut tiap kau hadir dalam mimpiku. Airmataku, isak tangisku, aku takut menyakiti dan membuatmu kecewa karena masih belum sempurna percaya bahwa kau sudah pergi.
Tapi, aku juga bahagia, karena hanya dalam mimpi aku bisa melihatmu secara langsung, melihat senyum, wajah berseri, dan mata yang meneduhkan.

Entah kenapa, meski didunia nyata aku tetap merasakan kehadiranmu. Walaupun tidak bisa melihatnya secara langsung seperti dalam mimpi. Tapi aku merasa kau sedang menjagaku, seperti sewaktu dulu.

Oh ya Ayah, kemarin aku main kerumah temanku. Ayahnya keluar dari rumah mengenakan baju kokoh dengan sarung dan pecinya. Tiba-tiba aku mengingat kala itu, dimana kau keluar dengan wajah yang berseri. Ah, tidak ada waktu tanpa wajah berserimu, tidak pernah kutemukan wajah muram durja kebanyakan orang didirimu, tidak pernah kutemukan kepayahan kebanyakan orang dibadanmu. Senang, bahagia dan ceria yang selalu kau tampakkan, dan itu membuat semua orang merindukan kehadiranmu.
Ingatkah? Jika sudah memakai sarung dan baju kokohmu itu Yah? Aku berlari kearahmu, dengan polosnya langsung duduk dipangkuanmu, tapi bukan itu yang aku mau. Aku selalu memintamu untuk mengayunku dengan sarung, dan kau melakukannya, tidak lupa sholawat demi sholawat diajarkanmu, ah itu adalah hal yang paling membahagiakan sekaligus sangat kurindukan.
Andai, itu terulang kembali. Akan aku abadikan segala momen tersebut.
Namun, sekarang aku hanya bisa menantimu dalam mimpi, meski tidak jarang aku selalu ketakutan untuk bangun, karena saat itu juga aku harus kehilangan senyummu.

Ayah, aku akan terus berusaha menjadi sholehah sebagai putrimu.
Sebentar lagi, adalah hari aku dilahirkan. Dimana aku mendapat hadiah paling indah untuk pertama kalinya, yaitu nama yang kau berikan.

Gresik, 03 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...