Langsung ke konten utama

Mengenangmu

Ku pejamkan mata, dan ku temukan seberkas cahaya yang menyilaukan.
Alih-alih berpaling untuk menjauh, hati dengan pongahnya menyuruhku mendekat.
Meraih yang nyatanya mustahil untuk direngkuh.

Cahaya yang tadinya begitu terang menyilaukan, perlahan meredup.
Seiring sosok yang selama ini kurindukan, datang dengan senyum khasnya.
Bibirku melengkung membalas senyumnya, begitupun dengan airmata, yang tidak pernah bisa lepas kala bertemu dengannya.

Mimpi yang selalu kunanti, namun juga kutakuti.
Yaitu kembali menemukannya, namun juga harus kembali melepaskannya.
Adakah alasan aku tak menangis? Jika berulang kali bertemu, berulang kali juga aku harus kehilangan orang yang sama.

Raga nyatamu pun sudah tak bisa lagi ku peluk, ku rengkuh, ku lihat. Yang ku dapatkan hanya bayanganmu, bayangan dalam mimpi tiap malamku. Bisa ku rasakan, tapi tidak bisa kuminta menetap.

Pernah, kurasakan lelah. Setiap membuka mata, dan tak kudapati sosok yang kurindukan didunia nyata.

Senyum manisnya,
Tatapan teduhnya,
Mata sendunya,
Bayangannya,
Cinta dan sayangnya,
Hanya lah khayalan yang masih sangat kuharapkan.

Dia, yang sekarang kusebut pria fajar.
Pria fajar yang selalu ku rindukan.
Pria yang sudah tak ada lagi dirumah, ketika ku bangun.
Pria yang memulai kehidupan paginya tanpa pernah kuketahui.
Hanya untuk apa? Aku.
Aku yang membuatnya, harus bangun lebih awal.
Aku yang membuatnya, berpura-pura tegar.
Aku yang membuatnya, enggan beristirahat sebentar.
Aku lah yang membuatnya, menjadi sosok pekerja keras tanpa mengenal keringat mengalir dikeningnya.
Aku lah yang membuatnya, menjadi sosok tak peduli pada luka nyata ditubuhnya.

Aku lah yang dibahagiakannya, hingga nafas terakhir.
Aku menyesal, dinafas terakhirnya masih menjadi seseorang yang perlu dibahagiakan olehnya.

Pria fajar yang kupanggil Bapak.
Andai mimpi disetiap malamku menjadi kenyataan,
Dengan seberkas cahaya, dirinya datang dan menyambutku bersama senyumnya,
Maka aku ingin menghabiskan waktu untuk bisa membahagiakannya.

-

Tak pernah ada kata lelah mengungkap segalanya tentang dia, pria yang sangat- dan sangat ku rindukan.
Banyak rasa kagum, bangga dan bahagia yang tak terhitung, pada pria yang membuatku hadir didunia ini.

Sayangi Ayah, Bapak, Abi, Abah, Papa, Papi kalian. Yang terkadang setiap Ayah bermacam-macam cara menyampaikan rasa sayangnya. Karena mereka lah, kalian akan merasa terjaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...