Langsung ke konten utama

Akulah yang masih mengalihkan perhatian dan perasaanmu

Baca sebelumnya : Badut yang hanya punya hak untuk menghiburmu

Kemarin malam, kita berada ditempat; dimana tidak ada yang mengenal kita dan hubungan kita selain sepasang kekasih. Untuk menguarkan rasa yang kita sadari sudah terlalu salah.

Kamu yang pertama kali berucap bahwa ini semua tidak benar. Ya, memang tidak benar. Kamu beranggapan bukan hanya menyakiti hatinya, tapi juga hatiku. Kamu mencoba memberiku pengertian bahwa tujuanmu kali ini bukan untuk mencampakkan, meninggalkanku ditengah jalan, dan menghancurkan harapanku, tapi karena kamu tidak ingin menyakitiku untuk kesekian kalinya, kamu takut harapan-harapan itu tidak terwujud, dan kamu akan menyesal untuk selamanya telah melakukan itu padaku.

Pada saat itu, aku yang sebelumnya memang menginginkan ini semua, malah hancur berkeping-keping, melebur bersama harapan yang berusaha kuhancurkan dan sekarang kamu pun ikut menghancurkan. Aku tidak tau mengapa aku bisa sesakit ini. Lebih sakit ketika melihatmu memikirkan dia.

Dengan berat hati, aku mengiyakan. Menghancurkan hubungan yang selama ini tidak jelas adanya. Kamu memberiku pengertian, bahwa kamu tidak benar-benar pergi, kamu akan tetap bersamaku, meski nantinya hanya sebagai seorang teman. Baiklah, aku mengiyakan.
Apa yang bisa kukatakan selain iya? Bukankah ini yang aku mau?

Lalu kita saling terdiam. Merenungkan jalan yang sudah terlalu jauh kita tempuh sekarang. Diatas hubunganmu dengannya, kita telah membangun hubungan lain yang membuatmu ingin selalu menetap didalamnya.

"Lalu dimana aku mendapatkan kenyamanan ini lagi?" Kamu berucap, membuatku ingin meneteskan airmata. Ingin sekali aku juga bertanya hal yang sama. Lalu dimana juga aku mendapatkan kenyamanan itu? Disaat hanya kamu yang dapat melakukannya.

"Entah kenapa sampai sekarang, aku sulit untuk melepasmu. Apa yang aku cari semua ada didirimu. Aku pernah berpikir berulang kali untuk melakukan ini, berhenti dari hubungan ini, berhenti menyakitimu untuk kesekian kalinya, tapi kenapa aku sangat berat melakukannya? Aku takut nantinya ketika aku sendiri yang memutuskan untuk berteman, aku kembali merindukan kenyamanan ini." Ucapmu yang meluruhkan hatiku.

Bolehkah aku berpikir bahwa semua kecurigaanku tentangmu kemarin itu salah, aku ingin bersombong diri bahwa aku lah yang masih mengalihkan perhatian dan perasaanmu sampai saat ini.

"Tapi aku salah telah melakukan ini padamu," ucapmu.

"Tapi ini juga kemauanku." Jawabku setelah sekian lama diam. "Semua kesalahan itu juga aku lakukan. Aku yang membuka hatiku untukmu, dan aku yang telah mempersilahkan kamu untuk masuk."

Jadi tidak ada yang salah. Benar bukan? Kita impas.

"Jadi?" Tanyaku.

"Apakah kita bisa berkompromi lagi?" Ucapmu. "Inilah yang aku rasakan, ketika aku berusaha berhenti, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku kembali luluh melihatmu, aku kembali sulit melepaskanmu."

Dan tanpa diduga, aku mengiyakan. Hatiku tidak bisa munafik. Aku masih menyayangimu hingga saat ini.

Kemudian kesalahan-kesalahan ini kita lakukan lagi. Dan entah kapan akan benar-benar berhenti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...