Baca sebelumnya : Aku hanya tempat tidurmu, bukan rumahmu
Aku menatapmu lekat, mencari aku didalam manik-manik mata indah itu. Tapi yang kutemui bukan aku disana, melainkan seseorang yang jadi fokusmu sekarang. Ah tidak hanya sekarang, tapi mungkin untuk selamanya.
Apa arti hadirku disini sekarang? Didepanmu, tapi bukan aku yang kamu tatap.
Kamu sedang bersama pikiran-pikiranmu tentangnya, yang aku tidak tau apa isinya.
Baiklah, mungkin aku memang bukan siapa-siapa sejak dulu hingga sekarang.
Aku tidak lebih dari manusia tidak tau diri yang masuk dalam kehidupanmu, dan menghancurkan harapan orang lain.
Tapi nyatanya, aku tidak benar-benar ada dihidupmu. Tidak punya hak memintamu pulang, dan tidak seharusnya menahanmu.
"Hibur aku" Ucapmu, seolah aku memang badut yang hanya punya hak untuk menghibur, tidak untuk memiliki. Ah ayolah hanya badut.
Dan dengan usahaku, aku berusaha membuat mu tersenyum. Mengindahkan rasa tak karuanku karna ada yang sakit didada, tapi tak bisa ku terka apa. Bukankah ini sudah kulakukan sejak dulu, dan kenapa aku baru menyadari bahwa ini sakit.
Ketika kamu mulai membaik, matamu masih tak lepas dari ponsel. Entah apa yang sedang ditunggu, mungkin kabar darinya. Dan bodohnya, aku hanya bisa tersenyum menyaksikan.
Untuk apa memprotes? Disaat aku bukan prioritas.
Bisaku hanya diam dan menyadarkan diri sendiri bahwa bukan aku yang dipilih, bukan aku.
Hai, Tuan. Apakah aku akan terus menjadi badut? Yang cukup hanya untuk menghiburmu, kemudian ditinggal ketika membaik.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu