Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Menekan rasa saat bersamamu

Aku meringkuk diatas kasur, memeluk guling yang terasa tidak nyaman seperti biasanya. Malam ini, setelah pertemuan itu. Aku tidak benar-benar terlelap, sesekali terbangun dan yang kuingat pertama kali adalah; ku akan kehilanganmu, hari bahagiamu sebentar lagi. Sedangkan aku masih bergulat dengan perasaan yang semakin hari, semakin melelahkan.  Kegelisahan itu semakin menyeruak ketika ponselku bergetar, seseorang sedang menelpon. Di tengah malam. Siapa lagi, kalau bukan sosok pengantar tidurku selama ini.  Ku lihat history panggilan, dan puluhan kali kamu coba menghubungiku, begitupun pesan yang kamu kirim melalui whatsapp.  Begini kah caramu mencariku? Sedangkan kamu pernah bercerita, mati-matian kamu mencari kekasihmu yang tiba-tiba hilang karena tidak kunjung diberi kepastian olehmu. Mulai dari menghubungi teman-temannya, hingga datang kerumahnya, yang berujung kalian saling mengikat janji, dan dengan bahagia dia menyambutmu melingkarkan cincin dijari manisnya. Aku tida...

Melepasmu pelan-pelan

Beberapa hari yang lalu, setelah kejadian itu, dan setelah janji pada diriku sendiri bahwa; aku harus mengikhlaskan perasaan ini. Aku kembali muncul ke permukaan. Bukan karena aku tidak bisa tanpamu, atau aku ingin kembali denganmu. Tapi, aku harus menjalani hidupku kembali, seperti biasanya. Hal-hal yang kutinggalkan beberapa hari ini, tidak bisa seterusnya ku hindari. Meski ku tau akibatnya, aku harus bertemu denganmu lagi. Ya, seperti yang sudah-sudah. Hariku memang sebagian diisi oleh kehadiranmu, sebagai seorang teman seperti yang lainnya. Bedanya, kemarin kita masih sering curi pandang, saling berpelukan dikala senggang, mengeratkan pegangan saat mulai renggang. Itu kemarin, tapi rasanya sudah berjuta-juta tahun lamanya. Tidak dipungkiri, aku masih merindukan hal itu. Aku merapal doa, seolah ini ujian akhir menuju kelulusan. Berharap, kejadian nanti dapat kulewati dengan mudah dan pulang dengan bahagia. Bertemu denganmu lagi, setelah beberapa hari tuli dari kabarmu, juga bisu unt...

Dan ketika aku benar-benar menghilang, apa kau mencariku?

Ku tau ini tidak mudah, tapi apa yang bisa dipertahankan dari; mencintai milik yang lain? Secara sadar, aku telah melukai hatiku sendiri. Hingga yang terakhir kudengar dari bibirmu, kamu akan mengikat janji seumur hidup dengannya, sebentar lagi. Hati mana yang tidak berantakan? Berulang kali, aku mengingatkan hati ini agar tidak berlebihan. Namun usahaku tak elak kalah oleh; hari-hari yang kulalui selalu bersamamu, pelukanmu yang begitu hangat, gurauanmu yang menghiburku, dan senyumanmu yang tanpa kusadari menjadi penyemangat dalam hidupku.  Maka bagaimana hatiku tidak berantakan mendengar kabar itu? Seolah keledai yang terjatuh dilubang yang sama, berulang kali aku ingin mengakhiri ini semua. Mengakhiri dukaku, juga rasa was-wasmu. Namun aku selalu kembali luluh oleh sikapmu yang begitu hangat. Aku kembali menitikkan airmata di dadamu, dan mengiyakan permintaanmu untuk menetap. Dan lagi-lagi, aku kecewa pada diriku sendiri yang telah ingkar janji. Kamu tidak pernah tau, bagaimana ...

Untuk Apa Ada Aku

Pelukmu masih hangat, Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit. Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu. Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam,  Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu, Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan, Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang. Kamu pamit. Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya. Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali. Tidak ada aku dalam masa depanmu, Tidak ada aku dalam impian besarmu, Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu, Tidak ada aku dalam rapalan doamu, Tidak ada. Dan tidak mungkin ada. Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya. Lalu untuk apa ada aku?  Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku, Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku, Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang...

Kemarau telah usai

Kemarau telah usai, Kini air menetes dari langit yang mendung, satu dua tiga hingga milyaran.  Menatap rintik yang tadinya sedang, berubah menjadi tak beraturan. Aroma yang sudah lama hilang, disambut semua orang dengan kebahagiaan.  Hujan,  Dulu aku menikmatimu bersamanya, Sebelum perempuan itu menyadarkan keberadaanku. Yang menghujam, Kala hari ini dia menikmatimu bersamanya, Dengan tawa yang hampir sama ketika bersamaku.  Hujan, kamu menghujamku dengan banyak kerinduan, Saat-saat dimana pelukan hangatnya menjadi penawar kedinginan.  Tapi kali ini hujan, kamu menghujamku dengan kehancuran, Memberitahuku bahwa senyumannya sudah tidak ada lagi, sejak terakhir kali kamu datang.

Ku kira kau masih sama

Ku kira senja berubah rasanya ketika kamu telah pergi, Tapi sore ini dia nampak masih memukau dan tetap hangat meski tuannya telah lama pergi bersama pagi. Tuan, lihat lah. Senja tak sepertimu, yang pergi saat bahagia dan datang saat lelah. Aku tak menyalahkanmu, tentang luka, pengorbanan, dan air mata. Tidak pernah kutau, bagaimana sesungguhnya dirimu ketika aku masih berjalan menuju arahmu. Mungkin saja kamu lebih terluka dariku, Mungkin saja kamu lebih tertatih dariku, Mungkin saja kamu lebih berdarah-darah dariku, Mungkin saja. Saat itu aku sibuk berjalan kearahmu, dengan pengorbananku. Sehingga aku tidak tau bagaimana keadaanmu. Yang kutau sekarang, kamu sudah tak mau lagi berjuang. Pengorbananku selama ini, menjadi sia-sia terbuang. Tapi tak mengapa. Kamu mengajariku, meski kamu telah pergi, namun orang-orang baik masih bersamaku. Merangkulku, dan menjadi tamengku yang sebenarnya kuharap adalah kamu.