Langsung ke konten utama

Melepasmu pelan-pelan

Beberapa hari yang lalu, setelah kejadian itu, dan setelah janji pada diriku sendiri bahwa; aku harus mengikhlaskan perasaan ini. Aku kembali muncul ke permukaan.
Bukan karena aku tidak bisa tanpamu, atau aku ingin kembali denganmu. Tapi, aku harus menjalani hidupku kembali, seperti biasanya. Hal-hal yang kutinggalkan beberapa hari ini, tidak bisa seterusnya ku hindari. Meski ku tau akibatnya, aku harus bertemu denganmu lagi.

Ya, seperti yang sudah-sudah. Hariku memang sebagian diisi oleh kehadiranmu, sebagai seorang teman seperti yang lainnya. Bedanya, kemarin kita masih sering curi pandang, saling berpelukan dikala senggang, mengeratkan pegangan saat mulai renggang. Itu kemarin, tapi rasanya sudah berjuta-juta tahun lamanya. Tidak dipungkiri, aku masih merindukan hal itu.

Aku merapal doa, seolah ini ujian akhir menuju kelulusan.
Berharap, kejadian nanti dapat kulewati dengan mudah dan pulang dengan bahagia.
Bertemu denganmu lagi, setelah beberapa hari tuli dari kabarmu, juga bisu untuk mengabarimu. Menjadi ketakutan tersendiri bagiku. 
Bagaimana jika airmata yang ku tumpahkan setiap disepertiga malam, dengan jelas dan gamblang kamu saksikan, tapi seperti patung, kamu tidak melakukan apapun. Ckck, aku benci membayangkannya. 

Didepan kaca, aku berbincang dengan diriku sendiri. Saling kompromi; agar menjadi sosok yang tegar dan tak mudah menangis. Ingin ku tunjukkan bahwa airmataku cukup berharga, untuk seseorang yang menganggapku tidak pernah ada. Untuk apa menangisi yang tidak pernah mengerti.

Ku melangkahkan kaki, sembari terus merapal doa. Berharap aku menjadi tangguh ketika nanti menatap matamu. Akh, sungguh apakah ini saatnya bertemu denganmu?

Setelah sampai ditempat itu, pandanganku yang biasanya langsung mengedar untuk mencari sosokmu. Kini hanya bisa menunduk, dan menatap nanar kakiku yang terhentak ditanah. Mengingat saat seperti ini, setelah aku memanggilmu, kamu akan menghampiri dan candamu mampu menghiburku, hmm mungkin tepatnya saling menghibur karena rasa lelah seharian.
Tapi kali ini, aku enggan melakukannya. Otakku terus memperingati untuk tidak ingkar janji lagi, tidak lagi menghancurkan usahaku beberapa hari ini untuk melepaskanmu.

Tapi ketika mendongak, pandanganku tiba-tiba langsung tertuju padamu. Mata itu juga melihatku. Mata yang memiliki keteduhan, dan mampu membiusku. Mata itu, tak menyiratkan apapun, selain kekosongan.
Kini semakin meyakinkanku, bahwa kamu tidak pernah merasa kehilanganku. Sedikit pun. 

Aku tersenyum kearahmu, dan kamu sedikit terhenyak. 
Kenapa aku seberani ini menyapamu? Aku takut pertahananku tak sekuat senyumku.
Lalu, kamu menghampiri- seperti biasanya. Tapi ada yang lain, kamu diam. Kamu tidak berusaha memulai pembicaraan seperti biasanya. 
Entah, apa yang sedang kamu pikirkan. 

Seperti yang kukatakan pada diriku sendiri, aku akan menjadi sosok yang tangguh dan bahagia karena lulus dari ujian. 
Aku memulai pembicaraan.
Bukan karena aku ingin memulainya lagi denganmu, atau menyanggupimu untuk menetap. Tapi aku ingin menunjukkan padamu, bahwa aku bisa tersenyum seperti yang kamu minta, tanpa harus bersamamu dalam persembunyian. Menyakitkan mungkin, tapi aku akan terbiasa dengan ini semua, begitu pun denganmu.
Tidak akan ada yang berubah dari pertemanan kita, karena sejak dulu hingga sekarang kita memang hanya berteman. Yang tau perasaanku, hanyalah aku. Dan berada dalam persembunyianmu adalah sebuah kesalahan. 

Kamu terus menatapku ketika sedang berbincang, seolah memintaku untuk membalas tatapan itu. Namun kurasa belum saatnya aku sekuat itu menatap matamu dengan jelas. Aku masih sangat tertatih memulai semua ini sendiri. 

Setelah selesai, perbincangan biasa yang hanya ada candaan, berusaha kuhapuskan dalam memoriku. Ini sudah terjadi sebelum perasaan ini tumbuh, artinya aku bisa menjadikan hal itu biasa.
Namun kamu lagi-lagi mengirim pesan, memberi kabar bahwa sudah sampai rumah dengan selamat. Syukurlah.
Biasanya, dengan cepat aku membalas, dan perbincangan ringan sampai hangat mengiringi kita hingga terlelap. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi tuli dari kabarmu, dan bisu untuk mengabarimu. Akhirnya ku hempaskan ponsel di ranjang, menarik napas dalam sembari memejamkan mata. Pertemuan itu, hampir saja menggoyahkan pertahananku. Bertemu denganmu, bercanda denganmu, dan perbincangan ringan itu, ternyata hampir meluluhkan hatiku lagi.

Dengan terus mengingatkan diriku sendiri, bahwa hari bahagiamu sebentar lagi. Aku berusaha memahami arti melepaskan yang sesungguhnya. Bahwa tidak perlu menghilang darimu, namun dengan menunjukkan senyum padamu, aku merasa lega, aku merasa bahagia, aku merasa bisa melepaskanmu pelan-pelan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...