Pelukmu masih hangat,
Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit.
Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu.
Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam,
Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu,
Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan,
Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang.
Kamu pamit.
Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya.
Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali.
Tidak ada aku dalam masa depanmu,
Tidak ada aku dalam impian besarmu,
Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu,
Tidak ada aku dalam rapalan doamu,
Tidak ada. Dan tidak mungkin ada.
Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya.
Lalu untuk apa ada aku?
Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku,
Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku,
Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang sudah tidak tau diri mengharapkanmu.
Untuk apa? Katakan? Beri aku alasan.
Betapa egoisnya dirimu,
Memintaku menetap, dalam duka setiap menatap matamu.
Jujur, ku semakin tak baik-baik saja.
Rasaku sudah berlebihan,
Dan aku tidak bisa seperti ini.
Membiarkan perasaanku terus jatuh pada seseorang yang telah memiliki tujuan.
Menatap masa depan pada mata yang dipenuhi harapan bersama orang lain.
Menghamburkan pelukan pada seseorang yang tidak dapat menetap.
Bagaimana kabarku nanti, jika kamu benar-benar pamit, dan tidak kembali untuk selamanya, bersama perempuan lain?
Aku lelah, aku ingin berhenti sebelum semuanya terjadi.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu