Langsung ke konten utama

Untuk Apa Ada Aku

Pelukmu masih hangat,
Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit.
Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu.
Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam, 
Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu,
Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan,
Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang.
Kamu pamit.
Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya.
Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali.

Tidak ada aku dalam masa depanmu,
Tidak ada aku dalam impian besarmu,
Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu,
Tidak ada aku dalam rapalan doamu,
Tidak ada. Dan tidak mungkin ada.
Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya.

Lalu untuk apa ada aku? 
Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku,
Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku,
Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang sudah tidak tau diri mengharapkanmu.
Untuk apa? Katakan? Beri aku alasan.

Betapa egoisnya dirimu,
Memintaku menetap, dalam duka setiap menatap matamu.
Jujur, ku semakin tak baik-baik saja.
Rasaku sudah berlebihan, 
Dan aku tidak bisa seperti ini. 
Membiarkan perasaanku terus jatuh pada seseorang yang telah memiliki tujuan.
Menatap masa depan pada mata yang dipenuhi harapan bersama orang lain.
Menghamburkan pelukan pada seseorang yang tidak dapat menetap.

Bagaimana kabarku nanti, jika kamu benar-benar pamit, dan tidak kembali untuk selamanya, bersama perempuan lain?

Aku lelah, aku ingin berhenti sebelum semuanya terjadi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...