Kemarau telah usai,
Kini air menetes dari langit yang mendung, satu dua tiga hingga milyaran.
Menatap rintik yang tadinya sedang, berubah menjadi tak beraturan.
Aroma yang sudah lama hilang, disambut semua orang dengan kebahagiaan.
Hujan,
Dulu aku menikmatimu bersamanya,
Sebelum perempuan itu menyadarkan keberadaanku.
Yang menghujam,
Kala hari ini dia menikmatimu bersamanya,
Dengan tawa yang hampir sama ketika bersamaku.
Hujan, kamu menghujamku dengan banyak kerinduan,
Saat-saat dimana pelukan hangatnya menjadi penawar kedinginan.
Tapi kali ini hujan, kamu menghujamku dengan kehancuran,
Memberitahuku bahwa senyumannya sudah tidak ada lagi, sejak terakhir kali kamu datang.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu