Langsung ke konten utama

Dan ketika aku benar-benar menghilang, apa kau mencariku?

Ku tau ini tidak mudah, tapi apa yang bisa dipertahankan dari; mencintai milik yang lain?
Secara sadar, aku telah melukai hatiku sendiri.
Hingga yang terakhir kudengar dari bibirmu, kamu akan mengikat janji seumur hidup dengannya, sebentar lagi.
Hati mana yang tidak berantakan?
Berulang kali, aku mengingatkan hati ini agar tidak berlebihan. Namun usahaku tak elak kalah oleh; hari-hari yang kulalui selalu bersamamu, pelukanmu yang begitu hangat, gurauanmu yang menghiburku, dan senyumanmu yang tanpa kusadari menjadi penyemangat dalam hidupku. 
Maka bagaimana hatiku tidak berantakan mendengar kabar itu?

Seolah keledai yang terjatuh dilubang yang sama, berulang kali aku ingin mengakhiri ini semua. Mengakhiri dukaku, juga rasa was-wasmu. Namun aku selalu kembali luluh oleh sikapmu yang begitu hangat. Aku kembali menitikkan airmata di dadamu, dan mengiyakan permintaanmu untuk menetap. Dan lagi-lagi, aku kecewa pada diriku sendiri yang telah ingkar janji.

Kamu tidak pernah tau, bagaimana rasanya menjadi yang disembunyikan. Ketika sedang jalan berdua, matamu tidak pernah fokus, selalu celingukan kesana kemari, seakan takut ada mata yang memperhatikan. Sedangkan aku berharap, kamu menggandeng tanganku dan menunjukkan pada dunia bahwa aku lah milikmu, dan kamu milikku. Kita berbanding terbalik ya.

Dan kemarin, aku sadar kembali. Bahwa usia rasa ini tidak patut dibiarkan. Rasa ini harusnya segera dibunuh habis.
Melihat pesan darinya, mengabari bahwa persiapan tinggal sedikit lagi, dan dia merengek kelelahan. Kamu tau bagaimana perasaanku saat itu? Jawabannya, sangat tidak baik.
Baru beberapa menit aku tersenyum karenamu, tapi sekarang? Bahkan untuk senyum terpaksa pun aku tidak bisa. 
Kembali aku bertanya, bagaimana perasaanmu padaku, bagaimana nasibku nanti, bagaimana hubungan kita selanjutnya. Dan jawabmu hanya "maaf". 

Tidak, harusnya aku yang meminta maaf karena memojokkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Harusnya tanpa kamu jawab, aku sudah tau; bahwa kamu tidak bisa memperjuangkanku, seperti aku memperjuangkanmu selama ini. Lalu apa yang bisa kulakukan melihat kenyataan itu?

Suasana menjadi hening, meski kamu berusaha membangkitkannya lagi. Aku tidak berselera tertawa dengan seseorang yang tidak tau harus melakukan apa. Aku tidak suka ketika hatiku dianggap lelucon seperti ini.
Aku menunggumu memberikan penjelasan, tapi seolah tidak ada yang perlu dijelaskan, kamu bungkam dan hanya mengalihkan pembicaraan.
Bagaimana bisa kamu mempertahankanku dalam persembunyian ini? Sedangkan perasaanmu saja, sekarang membuatku ragu.

Dan ketika aku benar-benar menghilang, apakah kamu mencariku?
Aku harap kamu tidak berpura-pura peduli dan mencariku, aku jauh lebih senang jika kamu tidak mencariku.
Sekarang, biarkan aku pergi. Dan yang kuharap, sikapmu tidak membuatku luluh kembali.
Akan selalu kuingat, bagaimana hangatnya pelukmu meski kutau sekarang bahwa semua itu hambar karena tanpa rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...