Langsung ke konten utama

Menekan rasa saat bersamamu

Aku meringkuk diatas kasur, memeluk guling yang terasa tidak nyaman seperti biasanya.
Malam ini, setelah pertemuan itu. Aku tidak benar-benar terlelap, sesekali terbangun dan yang kuingat pertama kali adalah; ku akan kehilanganmu, hari bahagiamu sebentar lagi. Sedangkan aku masih bergulat dengan perasaan yang semakin hari, semakin melelahkan. 

Kegelisahan itu semakin menyeruak ketika ponselku bergetar, seseorang sedang menelpon. Di tengah malam. Siapa lagi, kalau bukan sosok pengantar tidurku selama ini. 
Ku lihat history panggilan, dan puluhan kali kamu coba menghubungiku, begitupun pesan yang kamu kirim melalui whatsapp. 
Begini kah caramu mencariku? Sedangkan kamu pernah bercerita, mati-matian kamu mencari kekasihmu yang tiba-tiba hilang karena tidak kunjung diberi kepastian olehmu. Mulai dari menghubungi teman-temannya, hingga datang kerumahnya, yang berujung kalian saling mengikat janji, dan dengan bahagia dia menyambutmu melingkarkan cincin dijari manisnya.

Aku tidak pernah mengerti maksud dari semua ini, semua yang telah kita lakukan hingga saling sepakat memilih meletakkanku dalam persembunyian. Mengapa jika mencintainya, kamu mengajakku masuk hingga begitu dalam. Dan sekarang kamu membiarkanku sendirian keluar. Tanpa menuntunku, atau merangkulku. Aku sendiri.

Aku menutup mata sejenak, dan beranjak dari ranjang untuk mengambil air wudhu. Dalam malam-malam seperti ini, ku selalu menyebut namamu, selalu.
Namun yang berbeda, ketika dulu ku berharap memilikimu seutuhnya tanpa menyakiti siapapun, meminta Tuhan mempersatukan aku dan kamu tanpa ada lagi persembunyian, menjadikan sepasang kekasih halal, dan mendapatkan ketulusan cintamu. 
Kini tidak, aku hanya meminta pada Tuhan agar mudah melepaskanmu, merelakanmu, dan mengikhlaskanmu. Melihatmu dengannya, membuat dadaku sangat sakit, dan aku lelah merasakannya. Aku ingin perasaan itu hilang tak berbekas, dan menjadi teman biasa seperti dulu sebelum kamu sembunyikan. Hanya itu inginku sekarang.

Aku lelah, menahan diri saat melihatmu, menekan rasa saat bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...