Langsung ke konten utama

Hari ke-12 : Hari spesial bagimu

Aku ingat hari ini,
Hari spesial tiap tahunnya bagimu,
Beberapa tahun lalu aku masih sering memberi kejutan, dari hal yang tak terduga sampai yang bisa kamu tebak. Aku kira hari ini akan sama seperti sebelum-sebelumnya, tapi ternyata tidak ya Tuan.
Hari ini akan berlalu, seperti kamu yang sudah tidak ada kabar.
Meski sebenarnya kamu masih ada, tapi rasanya sudah hambar.

Hari dimana, sebelum aku benar-benar kehilanganmu. Berusaha membuat hari itu menjadi sangat spesial bagimu, hingga kamu akan selalu teringat bahwa pernah ada aku yang mengisi hatimu, meski tidak sepenuhnya.
Hari dimana, aku masih berusaha mengikhlaskanmu. Ketika aku sudah tau, bahwa kita akan berpisah cepat atau lambat.
Hari dimana, kamu masih menetap dan rela kutahan sebelum kembali kerumahmu yang sesungguhnya. Mengisi hari itu menjadi menakjubkan dan penuh hikmat, bersama lilin-lilin kecil dan kue ala kadarnya.
Hari dimana, terakhir kali kamu mendekapku, dan membisikkan kata cinta, yang kutau bukan seutuhnya untukku.
Dan hari itu telah berlalu, menjadi kenangan yang tak pernah kusesali adanya. Meski kamu tidak benar-benar mengucap selamat tinggal, tapi bagiku kamu sudah pergi jauh menghilang.

Selamat untuk hari ini, akan selalu kudoakan yang terbaik untukmu. Menjadilah seseorang yang hanya punya satu rumah, satu cinta, dan satu harapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...