Entah mulai sejak kapan, hal yang menurutku sulit untuk dilakukan, ternyata lambat laun bisa kujalani, yaitu; mengikhlaskanmu.
Bait demi bait seluruhnya tergores karenamu, sempat aku takut bagaimana jika kepergianmu membuatku kehilangan rasa percaya diri untuk bercerita. Tapi setelah berjalan cukup jauh, dan tanpa disengaja bukan kamu lagi yang menjadi alasanku menggoreskan pena, bukan sosokmu yang menjadi acuanku mengenang, bukan.
Ternyata aku bisa berdiri sendiri.
Cerita tentangmu telah usai seperti usia hubungan yang tak pernah dimulai ini.
Kita kembali pada satu hubungan pada umumnya; teman. Dan aku jauh lebih menyukainya, daripada berada dalam persembunyian.
Sempat hancur berkeping-keping, ternyata bukan alasanku juga untuk bisa membencimu. Meskipun sedikit menyedihkan, tapi tidak ada yang disesalkan. Aku yang dulu pernah mencintaimu, akan tetap percaya rasa itu. Dan aku yang sekarang mengikhlaskanmu, sangat percaya bahwa takdir tidak pernah mengakhiriku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu