Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Telah Menjadi Ibu

Postingan terbaru

Tentang sebuah perjalanan yang tidak mudah

Perjumpaan yang sering kali masih kurenungi. Mulai sejak kapan, sesingkat apa, sampai aku tersadar bahwa kamu benar-benar menjadi seorang imam yang berdiri selangkah didepanku, menuntunku sampai dirakaat terakhir dan salam.  Momen yang paling kusukai, adalah; ketika selesai salam, kamu menatapku dalam sembari tersenyum, mengecup kening sepersekian detik dan bersamaku merapal doa-doa baik untuk kehidupan selanjutnya.  Tuan, rasanya waktu cepat berlalu ya? Bahkan sebentar lagi, makmum-mu bukan hanya aku saja, melainkan sosok kecil yang nanti akan membuat hari-hari kita jauh lebih berwarna; tangisnya, tawanya, rengekannya. Ah, aku sangat ingin tau bagaimana sisi lain dari si Monster Senjaku. Ingin secepatnya melihat kamu merayu putrimu agar tak merajuk. Tuan, sampai pada titik ini. Aku tak lagi menunduk atas apa yang telah terjadi di belakang, bahkan aku membusungkan dada, bukan berarti sombong, melainkan bangga. Bahwa apa yang pernah terjadi dulu, tidak ada apa-apanya dengan nik...

Setelah dirayakan

Seseorang yang kini sedang tidur lelap disampingku, aku ucapkan terima kasih Tuan.  Terima kasih karena telah banyak mengusahakan untuk kebahagiaan-kebahagiaan kecilku. Sekarang aku sadar dan amat sangat yakin; ketakutanku dimasa lalu tidak pernah dan tidak akan terjadi.  Maaf untuk beberapa hal yang masih kupertanyakan, dan tidak satu dua kali aku ulangi. Maaf karena sisa masa lalu itu masih membuatku sedikit ketakutan, tapi dengan telaten kamu menjawab dan memakluminya. Tidak ada yang berubah, jawabanmu tetap sama dan pasti. Yang semakin membuatku bulat untuk mempercayai masa depan bersamamu dan malaikat kecil kita.  Ya, malaikat kecil kita yang baru saja dirayakan. Ia menjadi salah satu ketakutan masa laluku, dan ia juga yang menjadi alasanku semakin percaya akan usahamu meyakinkanku.  Kesempatan yang sempat aku ragukan, satu dibanding seribu. Aku bahkan hampir menyerah, tapi apa? Kamu terus meyakinkanku bahwa Tuhan itu adil. Tuhan akan menitipkan malaikat kecil-N...

Seseorang yang Baru

Haloo, apa kabar dunia?  Perkenalkan, aku seseorang yang baru,  Baru terlahir menjadi sosok yang berbeda. Berbeda karena setiap melangkah, genggaman yang nyata kini dapat aku rasakan dan tidak lagi ada keraguan.  Seseorang yang baru, karena harus merubah seluruh aktivitas dari pagi ke malamnya sangat amat berbeda dengan kebiasaan yang dulu. Ah semestinya bukan "harus", kata-kata itu terlalu menggambarkan bahwa aku sedang terpaksa dan tertekan menjalani diriku sebagai sosok yang baru. Padahal nyatanya, aku sedang sangat menikmati.  Menikmati waktu ketika mataku terbuka dan kembali terpejam, ada sosok laki-laki yang sedang ada disampingku.  Sesekali ia menatapku dalam, lalu mengecup keningku, dan menenggelamkan tubuhku didadanya yang bidang. Sungguh, aku sangat menikmati setiap detiknya.  Bersama dengannya 24/7 ternyata tidak merubah ekspektasiku tentangnya, dengan waktu yang cukup singkat untuk kita berkenalan dan memutuskan berada dititik ini; aku kira, bel...

(S)ampai nanti, Tuan

Kala itu aku merayu Tuhan, saat tubuhku sudah berdarah-darah dan tidak karuan. Untuk hidup enggan, matipun menyusahkan. Pada titik itu aku adalah gelandangan tanpa tujuan, beban bagi yang berdampingan, dan duri bagi yang datang bertuan. Jadi, apa gunanya diri ini, Tuhan? Namun dalam titik itu, Tuhan mengirim seseorang. Yaitu kau yang menarikku dari lembah berkubang, menggenggamku tanpa lepas pandang. Bahkan ketika hatiku berada diambang, kau meyakinkanku akan arti perjalanan yang panjang. Tuan, ketika kali pertama bertemu denganmu. Sesuatu menamparku, ialah cerita lalu yang melukaiku, cukup dalam hingga menembus enamel tulang-tulangku. Tentu berbekas, bahkan tak sesempurna ketika kuberani melawan arus. Tubuhku tergerus dan hampir hangus, itu mengapa tak sekalian tubuh ini hilang bersama arus. Namun Tuhan punya takdir, Ia menuntunku dalam cerita lalu tanpa pernah membuat ceritaku berakhir. Ia punya cara untukku akhirnya bertemu dengan kau, menerima uluran tanganmu dengan bayang cerita...

Tidak ada lagi kamu dalam tulisanku

 Untuk laki-laki yang dulu sering kuceritakan dalam tulisan, Kini bukan lagi kamu yang terdefinisi indah dalam tulisanku, kamu hanyalah masa lalu yang menyakitkan, yang ingin kuhapus bersama kenangannya. Lari dari persembunyian, tertatih mencari jalan pulang, terluka oleh duri omongan, dan pedih karena tidak adanya penerimaan. Kamu kira itu semua mudah? Selepas kepergianmu kembali ke rumah, aku menangggungnya sendirian, tanpa pernah memohon untuk kamu kembali. Kusembuhkan mental yang telah kamu hancurkan berkali-kali. Pelukanmu memang masih kuingat betul, sebagai yang pertama. Aku hampir frutasi ketika kamu tanpa berpamitan pergi, saat separuh nyawaku sudah kuberikan padamu sebagai lelaki. Tapi apa yang kulakukan dulu? aku hanya membiarkanmu, tanpa meminta sedikitpun belas kasihan atau rasa cintamu yang dulu. Karena aku tau, ini bukan hanya salahmu, tapi aku juga; yang terlalu percaya bahwa kamu benar-benar mencintaiku seperti yang selalu kamu katakan. Jika kamu tahu tulisan ini, k...

Semuanya telah terlewati

Dear Monster Senjaku, Pada akhirnya kita bisa melewati semua, singkatnya cerita perkenalan beserta kerikil-kerikilnya tidak menggoyahkan tujuan kita.  Pada titik ini aku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok sepertimu, laki-laki yang menerimaku dengan segala cerita masa lalu yang tidak baik-baik saja. Kamu masih menggenggamku meski sesekali merasakan kecewa karena mengetahui kenyataan yang ada. Kita sama-sama bukan dari masa lalu yang baik, begitu ujarmu. Begitupun dengan takdir yang sangat adil pada kita, sepasang kekasih yang menapaki jalan menuju pernikahan dengan ridho-nya. Seandainya kita tidak memiliki cerita masa lalu itu, mungkin salah satu dari kita akan berpikir ulang untuk ada dalam hubungan ini. Mas, kemarin ujian kita sangat berat menurutku. Terkadang aku ingin menyerah dan melepaskanmu saja. Tapi ternyata kamu jauh lebih kuat untuk menggenggamku, meyakinkanku bahwa semua akan berlalu dan kembali baik-baik saja. Dan seperti yang kamu bilang, semuanya membaik. Perem...