Langsung ke konten utama

Tidak ada lagi kamu dalam tulisanku

 Untuk laki-laki yang dulu sering kuceritakan dalam tulisan,

Kini bukan lagi kamu yang terdefinisi indah dalam tulisanku, kamu hanyalah masa lalu yang menyakitkan, yang ingin kuhapus bersama kenangannya.

Lari dari persembunyian, tertatih mencari jalan pulang, terluka oleh duri omongan, dan pedih karena tidak adanya penerimaan. Kamu kira itu semua mudah?

Selepas kepergianmu kembali ke rumah, aku menangggungnya sendirian, tanpa pernah memohon untuk kamu kembali. Kusembuhkan mental yang telah kamu hancurkan berkali-kali.

Pelukanmu memang masih kuingat betul, sebagai yang pertama. Aku hampir frutasi ketika kamu tanpa berpamitan pergi, saat separuh nyawaku sudah kuberikan padamu sebagai lelaki.

Tapi apa yang kulakukan dulu? aku hanya membiarkanmu, tanpa meminta sedikitpun belas kasihan atau rasa cintamu yang dulu. Karena aku tau, ini bukan hanya salahmu, tapi aku juga; yang terlalu percaya bahwa kamu benar-benar mencintaiku seperti yang selalu kamu katakan.

Jika kamu tahu tulisan ini, kamu tak perlu kembali untuk menengadahkan tangan meraihku lagi.

Karena aku sudah menemukan laki-laki yang menerima seburuk apapun masa laluku, bahkan tentang apa yang pernah kita lakukan, yang amat sangat kubenci karena menceritakan padanya.

Ia tak pernah bertanya siapa kamu, bagaimana kamu merayuku, atau seperti apa kita dahulu. Ia tak pernah ingin tau tentangmu. Ia tak mau tau tentang bodohnya aku yang mau berada dalam persembunyianmu, membukakan pintu berkali-kali untukmu. Ia sebaik itu, kamu tau!

Lalu apa peranmu?

Kini peranmu hanyalah sebagai tulisan usang yang telah dimakan rayap. Dan aku harap, kamu tak perlu datang lagi. Tidak ada yang baik-baik saja dariku setelah kepergianmu, dan dengan kamu datang lagi akan memperburuk keadaan.

Lalu tentang masa lalunya?

Sama sepertinya, aku akan menerima apapun yang pernah terjadi dimasa lalunya. Bahkan ketika salah satu dari masa lalunya masih mengusik. Tidak ada yang menggoyahkanku sama sekali.

Aku sekarang mengerti definisi penerimaan yang sesungguhnya. Yaitu tentang saling mengikhlaskan dan melupakan. Aku dan dia tidak baik-baik saja setelah masa lalu kami lewati masing-masing. Tapi kami saling memperbaiki diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...