Langsung ke konten utama

Untuk laki-laki yang pernah meletakkanku dalam persembunyian

 Dear laki-laki yang pernah meletakkanku dalam persembunyian,

Kamu tau, sejak aku memutuskan untuk pergi secara diam-diam dari tempat persembunyian yang kamu buat untuk kita, aku berjalan dengan sekuat tenagaku meski tertatih, mengembalikan mentalku yang hancur karena melihatmu kembali ke rumah tanpa pernah ingin menilikku dahulu.

Aku hampir menyerah...

Tapi melihatmu sudah berbahagia, aku merasa semakin bodoh. Mengapa aku harus terus menunggu? bahkan hingga sejuta tulisanku tentangmu pun tidak akan mengembalikan apapun, termasuk sembuhnya luka yang kamu buat.

Dan kini, datang laki-laki yang mau menggenggam tanganku erat tanpa melihat masa laluku. Tapi kamu masih kusembunyikan dari seluruh ceritaku padanya. Kenapa? Karna kamu yang paling menyakitkan.

Aku ingin mengubur semua tentang kita, tak terkecuali tentang aku yang  masih berulang kali membukakan pintu untukmu datang dan membiarkanmu kembali pergi. Aku merasa amat sangat bodoh saat itu.

Batinku berkecamuk, semalaman aku tidak tidur, memikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada dia. Membayangkan bagaimana responnya mendengar diriku yang sangat bodoh dan buruk dimasa lalu. Apakah dia bisa menerimanya atau malah melepaskanku. Aku takut. 

Dan apa yang bisa kamu lakukan? Kamu disana tertawa bahagia bersama perempuan yang kamu sebut rumah. Sedangkan aku? aku berusaha agar laki-laki didepanku ini tetap bisa kupertahankan.

Tapi kamu tau? Laki-laki yang sejak semalam kutakutkan akan berubah pikiran setelah mendengar cerita tentang kita, ternyata malah menggenggam tanganku lebih erat, dia mendekapku, menenangkanku. Dan meyakinkanku bahwa tidak ada yang berubah, semua tetap sama.

Tapi setidaknya aku bisa bertemu dengan laki-laki tulus yang menerimaku apa adanya. Bukan sepertimu yang hanya meletakkanku sebagai persinggahan semata.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...