Langsung ke konten utama

Penerimaan yang tanpa bertanya

 Dear Monster Senjaku,

Ketakutan yang selama ini kututupi darimu, kemarin akhirnya kamu ketahui. Dan hal yang membuatku lagi-lagi kagum padamu ialah caramu menerimaku. Penerimaan yang tanpa bertanya, hanya mendengarkan lalu sudah. 

Caramu meyakinkanku bahwa semuanya tetap sama meski kenyataan baru telah kamu ketahui. Kamu memelukku dan menguatkanku dari ketakutan itu.

Kamu selalu berujar bahwa masa lalumu sama buruknya dengan masa laluku, dan tidak ada yang perlu ditakutkan.

Namun sebagai seorang perempuan, aku takut dengan pernyataan yang sudah banyak terjadi dikehidupan nyata. Yaitu; perempuan bisa menerima masa lalu seorang pria, tapi tidak semua pria bisa menerima masa lalu perempuannya.

Mas, aku pernah hancur, keluar dari persembunyianku yang dulu nyatanya menguras tenaga dan mentalku. Hingga sampai detik ini. 

Seseorang yang kuanggap mau menjadikanku rumah, tapi ternyata tidak ingin mengubah apapun selain tetap menjadikanku sebagai persinggahan. Aku pernah sebodoh itu karena cinta, sefrustasi itu sampai rela tetap berada dipersembunyian.

Dulu aku menganggap hanya dia yang bisa menerima keadaanku, tapi ia tidak beda dengan laki-laki lainnya. Ia hanya memanfaatkan kelemahanku untuk tetap berada dipersembunyiannya. 

Tapi Mas, aku tidak serta merta menyalahkannya, karena jika aku tidak membukakan pintu maka ia tidak akan bisa masuk. Aku menyambutnya dengan hangat saat itu, dengan tetap merasa keyakinanku tentangnya benar. Dia memang salah, tapi aku dan keadaan juga salah. 

Jadi jika kamu merasa jijik melihatku yang murahan karena cinta, aku tidak apa-apa, Mas. Karena pada kenyataannya aku dulu memang sangat bodoh.

Namun lagi-lagi, caramu menerima masa laluku membuatku terharu. Tidak ada yang berubah darimu setelah mendengar kenyataan itu. Kamu tetap hangat dan menyenangkan seperti sebelum-sebelumnya.

Terima kasih, Monster Senjaku.

Komentar

  1. Hati-hati jika dari hasil merebut kebahagiaan orang lain mbk.

    BalasHapus
  2. Yang kau takuti diketahui status janda yg telah kau n kluarga kau sembunyikan.
    Jika memang kau perempuan baik² seharusnya jujur di awal mbk, bukan menipu begini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Tinggalkan komentar kamu

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...