Kala itu aku merayu Tuhan, saat tubuhku sudah berdarah-darah dan tidak karuan. Untuk hidup enggan, matipun menyusahkan. Pada titik itu aku adalah gelandangan tanpa tujuan, beban bagi yang berdampingan, dan duri bagi yang datang bertuan. Jadi, apa gunanya diri ini, Tuhan?
Namun dalam titik itu, Tuhan mengirim seseorang. Yaitu kau yang menarikku dari lembah berkubang, menggenggamku tanpa lepas pandang. Bahkan ketika hatiku berada diambang, kau meyakinkanku akan arti perjalanan yang panjang.
Tuan, ketika kali pertama bertemu denganmu. Sesuatu menamparku, ialah cerita lalu yang melukaiku, cukup dalam hingga menembus enamel tulang-tulangku. Tentu berbekas, bahkan tak sesempurna ketika kuberani melawan arus. Tubuhku tergerus dan hampir hangus, itu mengapa tak sekalian tubuh ini hilang bersama arus.
Namun Tuhan punya takdir, Ia menuntunku dalam cerita lalu tanpa pernah membuat ceritaku berakhir. Ia punya cara untukku akhirnya bertemu dengan kau, menerima uluran tanganmu dengan bayang cerita lalu yang hampir sama.
Tuan, sampai nanti.. Kita akan bertemu dalam satu meja akad.
Dan kau akan mengikrarkan janji didepan wali pengganti Ayah. Berjanjilah untuk tak hanya menghapus luka dalam tubuhku, namun juga berjanji pada Tuhan yang telah mentakdirkan kita bersama, kau akan tetap menggenggamku ketika kumulai goyah, merangkulku ketika ku rapuh, dan mencium keningku ketika kumulai gelisah.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu