Langsung ke konten utama

Angin katakan pada Daun part 2

Waktu pun berlalu begitu cepat, pertemuan yang dingin kini berubah menghangat ketika laki-laki yang dulu kusebut monster menjadi sangat baik dan begitu ramah denganku, bahkan kebaikannya mencoba menelisik setiap sela disisi-sisi relung hati yang tanpa aku sadar sudah berhasil mengobrak-abriknya. Entahlah, apa yang aku rasakan, ini terlalu cepat rasanya.

"Esha,"
Suara itu menguarkan lamunanku.
Disamping sudah terlihat laki-laki tegap tersenyum begitu manis seperti halnya icecream yang ada ditangannya.
"Icecream manis dari orang manis."
Ucapnya. Seperti tau apa yang aku katakan dalam hati, Abyan begitu percaya diri menyebut dirinya manis.

"Idih Kak, percaya diri banget sih."
Elakku, sembari mengambil icecream yang disodorkannya untukku.

"Sudahlah, aku tau kamu tadi mau bilang hal itu kan?"
Godanya.

"Enggak. Sudahlah, jangan suka ke'pede'an Kak."
Elakku lagi.

"Tapi aku tau, sebenernya kamu bilang gitu kan?"
Godanya lagi.

"Enggak Kak, kenapa sih sok manis banget."
Elakku lagi, lagi.

Kemudian tawanya menginterupsi perdebatan itu. Aku tercekat, ketika icecreamnya terjatuh ketanah.

"Tuhkan, icecreamnya jatuh. Kenapa sih ketawa sampek segitunya?"
Tanyaku, bisa-bisanya karena tertawa sampai icecream yang dipegangnys jatuh ketanah, dan tidak tersisa.

"Lucu saja, kenapa kamu suka sekali berdebat denganku. Padahal dulu, menyapaku saja kamu nggak berani."
Ucapnya yang seketika membuatku berhenti bersungut-sungut, wajahnya yang terlihat menyebalkan karena sedang meledekku, membuatku ingin sekali membalasnya, tapi bagaimana bisa? Kalau setiap ledekanku dibaliknya, hingga aku yang jadi bahan ledekan.

"Bukannya aku nggak berani, tapi untuk apa juga menyapamu."
Jawabku lebih ketus. Tapi bukannya sakit hati dan kesal, Abyan malah menertawakanku lagi.

"Bilang saja kalau takut.."
Ucapnya lagi, tapi tiba-tiba berhenti karena ponselnya berbunyi.
"Eh, aku pergi dulu ya. Masih ada urusan."
Tambahnya.

"Oh iya Kak, hati-hati ya."
Ucapku, setidaknya pertemuan sekilas dan tanpa direncana ini kembali terjadi kesekian kalinya.
Pulang dari kerja, dan berjalan ke taman untuk sekedar merefreshing pikiran yang suntuk, mempertemukanku lagi dengan Abyan yang katanya sedang jalan-jalan ditaman sebelum bertemu dengan orang. Dia mengajakku sekedar makan icecream dan menunggu orang penting yang sejsk tadi janjian dengan Abyan.

"Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?"
Tanya Abyan setelah melangkah satu langkah didepanku.

"Nggak apa-apa Kak. Aku juga mau menghabiskan icecream ini."
Ucapku sembari mengangkat tangan yang sedang memegang icecream yang mulai meleleh karena dianggurin.

Dia tersenyum. Dan berbalik ketika seorang perempuan diatas motor melambaikan tangan kearahku, tepatnya Abyan yang ada didepanku.
Bola mataku nyaris jatuh ketanah, nafasku hampir tercekat. Kesadaranku beralih ketika melihat perempuan itu, dia perempuan yang pernah dilihatnya disekolahan SMA, menjemput Abyan seperti halnya sekarang yang sedang perempuan itu lakukan. Setelah ini mereka akan pergi bersama motor itu.

Abyan ikut melambaikan tangan.
Aku membuang muka, bukan karena tidak suka melihat hal itu.

Tapi rasanya aku terlalu menaruh harapan lebih pada laki-laki itu. Mencoba menganggapnya pemberhentian terakhir, namun ternyata seperti halnya yang lalu, aku hanya persinggahan sementara. Sampai kapan?

"Maaf Sha."
Ujar laki-laki yang ternyata masih ada didepanku. Seperti kecurigaanku sebelumnya, laki-laki itu sepertinya cenayang.

"Untuk apa Kak?"
Tanyaku sembari tersenyum, menutupi kesedihan? Bukan, menutupi kebohongan kalau aku kuat.

"Untuk kesalahanku memberimu harapan lebih."
Ucapnya yang membuatku semakin tercekat. Kesalahan? Jadi semua hanya kesalahan?

Aku kembali mencoba tersenyum. Tapi tidak lagi bisa berbohong, kalau memang benar aku sudah terjebak dalam harapan palsunya.

"Tidak Kak, bukan salahmu. Aku yang terlalu menaruh harapan lebih sama kamu. Seharusnya aku berfikir kalau semua kebaikanmu itu hanya sekedar kebaikan antar sesama, bukan perhatian lebih. Maaf Kak, aku tidak bermaksud membuat semua ini canggung, aku salah."
Ucapku, seperti yang aku katakan, aku canggung. Aku ingin sekali pergi sekarang, dan meninggalkan laki-laki itu bersama kebaikannya yang selalu kuanggap pengharapan.

Membalikkan badan, dan segera pergi adalah tujuanku sekarang.
"Coba katakan satu kalimat, biar aku tidak menyesal memberimu harapan?"
Ucapannya membuatku berhenti seketika, mengurungkan niat untuk melangkah dan segera pergi jauh darinya.

"Untuk apa Kak? Aku tidak mau mengemis untuk diberi harapan kalau itu percuma, hanya untuk menyenangkan hatiku, tapi tidak memperdulikan hatimu yang terpaksa."
Jawabku, setidaknya mulai sekarang aku sudah berusaha membuang dan menghilangkan harapan itu. Karena bukan hanya hati Abyan saja yang terpaksa, tapi juga ada hati perempuan lain yang sedang tersakiti oleh harapan itu.

"Memangnya kamu tau darimana aku terpaksa?"
Pertanyaannya semakin membuatku bingung. Apa maksudnya?

"Sudahlah Kak Abyan, aku baik-baik saja. Kalau Kakak menganggapku setelah ini aku akan terpuruk, itu salah Kak. Mulai seksrang aku sudah mencoba menghilangkan harapan itu jauh-jauh."
Jawabku dengan senyuman yang meyakinkannya. Tapi nyatanya pandnagan monster yang aku lihat dulu, sekarang sudah kulihat dan mampu menciutkan nyaliku.

"Semudah itu? Apa kamu tidak sadar. Seseorang yang memberimu harapan, tidak akan menyia-nyiakan hal itu, karena sebelumnya ada sesuatu yang sudah membuatnya melakukan hal itu. Entah itu karena jatuh hatinya sejak dulu yang takut diungkapkan."
Ucapan laki-laki itu membuatku tertegun, apa yang dikatakan Abyan saat itu adalah dirinya, apa laki-laki itu memberi harapan karena sebelumya sudah jatuh hati?

"Aku nggak ngerti Kak. Nggak ngerti dengan semuanya."
Ucapku.

"Perlu kamu tau Sha, aku tidak akan hanya memberi harapan yang tidak berguna saja. Aku akan membawa harapan itu menjadi nyata, nanti saat aku sudah ada didepan orangtuamu mengucapkan qobul, insyaallah, aku akan melakukannya."
Ucapan laki-laki itu semakin membuatku susah bernafas.

"Apa maksudnya Kak? Bagaimana dengan perempuan yang selalu menunggumu diatas motor untuk sekedar pergi berdua, bukankah dia yang harus menjadi mahrammu?"
Ucapku, meskipun yang dikatakan oleh Abyan adalah hal yang ingin sekali aku dengar. Tapi aku juga tidak boleh buta mata, dan tuli telinga kalau sudah ada perempuan lain, yang mungkin sebelumku dia sudah menunggui Abyan.

"Maksud kamu, dia?"
Tanya Abyan sembari menunjuk perempuan yang sedang bermain dengan ponselnya diatas motor.
"Dia Naila, adik perempuanku yang pernah meminjamkan celana olahraganya padamu. Karena dia, aku bisa sedikit membantu mengurangi rasa malumu dulu."
Ujarnya sembari menahan tawa, oh ya Rabb apa dia membayangkan masa itu.

"Jadi dia adikmu?"
Aku tidak peduli dengan Abyan yang menahan tawanya, masa bodoh. Yang penting aku butuh penjelasan.

"Iya, dia adikku. Apa aku salah berboncengan dengan adikku? Sedarah, sepersusuan, serumah dan kembar?"
Kalimatnya semakin memperjelas.

Dan nyatanya dia memang seperti angin. Daun salah paham padanya karena sudah cukup banyak menggugurkan bagian tubuhnya, tapi daun salah, angin tidak hanya sejahat itu, disisi lain angin membantunya untuk kembali tumbuh dengan yang lebih baik.
Begitulah Abyan, kesalah pahaman itu membuatku hampir menjauhinya dan membuang jauh-jauh semua tentangnya, namun bukan Abyan, jika dia akan mudah mengatakan sesungguhnya dengan mudah. Seharusnya aku sadar sejak pertemuan awal setelah beberapa tahun tidak bertemu. Dia memberiku satu makna tentang angin yang tidak akan menyakiti daun, kalau saja angin bisa berkata pada daun.

End.

Regards
Umi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...