Langsung ke konten utama

Sosok dalam hadirku

Ini bukanlah kisah, namun hanya guratan takdir yang pernah aku saksikan.
Aku hadir, karena dirinya hadir. Seorang pria sederhana yang dulunya mengenyam bangku sekolah sebatas sekolah dasar, bahkan itupun tak bisa dia tamatkan. Kenapa? Bukan karena dia urakan dan sengaja berhenti sekolah, namun keadaannya lah yang memaksa untuk tidak melanjutkan meraih cita-citanya. Merawat adiknya yang hampir tiga orang, setiap dia berjalan, semua adiknya berlarian menuju dirinya, memintanya untuk menggendong, dan dengan senang hati, pria itu langsung menaikkan satu persatu adiknya diatas punggung dan lengannya. Ya Rabb, apa sekarang masih ada laki-laki sepertinya, yang rela menjadi ayah untuk adik-adik kecilnya, meski dirinya sendiri belum dikatakan dewasa.
Dan pria itu tumbuh semakin besar, sebesar semangatnya bekerja, hanya untuk menghalalkan seorang wanita yang dia yakini akan melahirkan putri-putri cantik untuknya. Ya, saat itulah pria itu jatuh cinta, hanya pada satu wanita yang membuatnya semakin mendekatkan diri pada kuasa-Nya. Seorang wanita yang membuka matanya, bahwa kehidupan bukanlah untuk bekerja dan bekerja, tapi ada seorang wanita yang perlu menyambutnya sehabis bekerja dan menghidangkan makanan kesukaannya, selepas itu, beribadah adalah waktu khususnya bersama wanita itu. Dan semua itu terjadi, hasil kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil.
Wanita itu sudah dia halalkan, bahkan Allah sudah mengaruniai keluarga kecil itu dengan dua putri yang selalu dia impikan. Kehadiran mereka semakin membuat pria itu bekerja keras, karena bukan lagi satu wanita yang perlu dinafkahi, namun dua gadis yang nantinya akan sukses dengan pendidikan tinggi juga akhlak yang baik. Ya, disaat putri pertamanya sudah beranjak dewasa, saat masa itu bersekolah dan mondok adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh orangtua yang cukup mampu untuk para putra-putrinya, pria itu dengan semangatnya berusaha untuk mendaftarkan putrinya agar bisa masuk disekolah dan pondok pesantren yang banyak diminati oleh orang.
Saat itulah cacian, hinaan, makian dilontarkan padanya, bahkan orang terdekatnya meremehkan hal yang mustahil dilakukan oleh pria itu. Dengan kondisi yang pas-pasan, mana mungkin pria itu mampu membiayai sekolah sekaligus mondok untuk putrinya. Mendengar itu, istrinya menangis, membujuk pria itu untuk tidak melakukan hal mustahil itu, dia menyarankan agar putrinya disekolahkan disekolah terdekat, dan jika masalah mondok, wanita itu akan berusaha memapah agama putrinya seperti kurang lebih yang dilakukan dipondok pesantren. Namun pria itu masih bersikekeh, alibi istrinya hanyalah hasil dari apa yang dia dengar, tidak dengan pandangan jauh nanti dimasa depannya. Sekolah ecek-ecek dengan agama yang minim, bukanlah tujuannya, dia hanya menginginkan putri-putrinya tidak seperti dirinya, yang hanya mendapat ilmu sekedarnya, dan akhirnya harus bekerja banting tulang untuk menghidupi kehidupannya sendiri, dia tidak mau itu. Karena apa yang dia rasakan sudah cukup baginya, tidak untuk putrinya.
Semuapun terlewati begitu cepat, putrinya sudah berhasil lulus disekolah dan pondok yang pria itu inginkan. Tanpa dia sadari, dirinya mulai menua, seiring rambutnya yang mulai memutih, dan kulitnya yang mulai keriput.
Diusianya yang sudah berkepala lima, dia masih harus bekerja, karena masih ada satu putrinya lagi yang harus dia biayai pendidikannya, meskipun dirinya tak sekuat dulu, namun semangatnya tak secuilpun hilang sejak dulu.
Setiap pagi buta, dia menembus kabut tebal disisi-sisi pematang sawah, sekedar menengok hasil pertaniannya, padi yang mulai menguning dan merunduk, meski padi itu tidaklah tumbuh ditanah miliknya sendiri, melainkan ditanah orang yang dia sewa.
Memiliki tanah sendiri, juga merupakan mimpi dalam hidupnya. Pandnagan pria itu begitu jelih, memilah setiap sisi padi yang berbaris, mengatur bola matanya dari kanan kekiri, dan kembali lagi kekanan.
Dia tidak bisa lama, karena pukul setengah tujuh dia harus berangkat kerja disebuah pabrik kayu, menjadi pemborong bukanlah keinginannya, namun apalah jika dibandingkan pendidikannya yang hanya tamatan sd.
Semangatnya lah, yang berhasil membuat pria itu hidup dalam kebahagiaan.
Sampai akhirnya sebuah insiden terjadi begitu cepat, dan msrubah semuanya sampai sekarang, karena kecerobohan teman kerjanya, perut pria itu tertonjok kayu balok besar, meski itu sangat menyakitkan dan hampir membuatnya pingsan, lantas pria itu tidak mempunyai niatan untuk membalas atau memarahi temannya. Kecerobohan itu bukan mutlak kesalahannya. Itulah yang dia katakan ketika istrinya menangis melihat keadaannya.
Namun setelah beberapa hari dia sembuh, maka semakin banyak vonis dokter yang keluar dan masuk ditelinga keluarga kecil itu. Derai tangis hampir setiap saat muncul diperjalanan yang menyulitkan bagi pria itu. Terakhir yang paling menyedihkan adalah ketika tengah malam, pria itu merangkak dari kamar menuju musholla yang ada didalam rumah, dia sengaja melakukan itu karena tidak mau membangunkan istri juga anaknya bahwa dirinya sedang kesakitan. Namun rasa sakitnya tidak bisa menbuatnya sekuat seperti biasanya, semangatnya tak nampak lagi dimatanya, hanya rintihan rasa sakit yang dia keluarkan dari mulutnya.

Ya Rabb, kalau boleh, jangan beri rasa sakit berlebih untuknya, sudah cukup dari dulu dia menderita bekerja keras membanting tulang. Tolong kali ini, jangan patahkan semangatnya.

Namun Tuhan ternyata lebih menyayanginya, menjemputnya lebih cepat dari yang kuduga. Belum sempat aku membalas rasa sayang dan kerja kerasnya dulu, belum sempat aku lebih lama merawatnya dimasa tua. Kenapa sebegitu cepat Ya Rabb?

Dia pria yang kupanggil Bapak, yang kusemogakan bahagia disyurga-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...