Seperti hujan yang datang sore ini, setiap kalimat singkatmu masih menjadikan sesuatu terasa teduh akhirnya, apalagi hawa sore ini begitu dingin karena tidak hanya hujan yang hadir, namun juga angin sebagai kawannya. Itu semakin membuatku menggigil.
Hujan yang kunantikan beberapa hari ini, seperti halnya sebuah penantian yang tertuju pada seseorang yang sudah beberapa kali membuatku memberi ruang lebih dihati, meski tanpa kusadari dan kukendalikan. Sungguh, kalau boleh aku memilih, aku lebih memilih untuk tidak memberi ruang sedikitpun untuknya, sedikitpun. Karena pada dasarnya, aku mulai muak dengan kisah yang lalu, yang berjalan dengan rasa berlebihan bagiku, dan akhirnya sama-sama menyakitiku, tanpa sedikitpun menilik apa tak berbekas kah luka itu?
Jangan menanti, jika hanya percuma.
Ingin sekali rasanya bertanya padanya, apa penantianku ini hanya hal percuma dan tidak penting untuk dihargai. Aah andai saja dia tahu tentang itu. Aku tidak akan sebimbang ini. Tidak akan seberharap ini. Tapi apalah, hakikatnya wanita hanya bisa menanti, cukup dia yang harus mengerti.
Hujan mulai mereda. Seperti penantian yang mulai kuredakan, dan kuhapus perlahan. Apa boleh aku berhenti, sebelum dia tahu yang sesungguhnya, sebelum perasaan berlebihan itu kembali memenuhi sesuatu yang belum pasti.
Aku pun tidak tahu akhirnya, apakah dia akan mengerti atau bersikap acuh akan hal ini.
Namun Ya Rabb, jangan ombang-ambingkan jika perasaan ini tidak beralur dan berujung.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu