Langsung ke konten utama

[Setia] - Don't Believe 1

Yang suka cerbung silahkan baca, kalo cuman kepo, ya gausah baca.
Cerita ini akan ditulis ulang di akun wattpad, bisa berkunjung dan silahkan tinggalkan coment juga vote.

[Setia] - Don't Believe part 1

***

Biya merasakan ada sesuatu yang aneh sejak dirinya keluar dari toko buku untuk sekedar membeli novel terbaru jebolan penulis kesukaannya. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sudah seperti film trailer yang menegangkan, perempuan itu mempercepat langkahnya ketika selesai menoleh kebelakang dan tidak menemukan siapapun kecuali orang yang berlalu lalang berjalan melewatinya, tidak yang mengikuti langkahnya.

Perkiraannya benar, ketika langkahnya yang dipercepat, langkah seseorang yang ada dibelakangnya pun terasa ikut dipercepat yang dia dengar jelas derap langkahnya. Seketika Biya membalikkan badannya dan berhasil memergoki siapa yang sejak tadi sengaja mengikutinya.
Dan begitu terkejutnya dia, ketika melihat laki-laki yang beberapa hari lalu dia kenal, namanya Setia. Laki-laki itu hadir entah sejak kapan dan dalam insiden apa, Biya sendiri tidak mengingat. Yang dia tahu, Setia adalah pengusaha besar yang tempat nongkrongnya dicafe dekat toko buku yang baru saja dia kunjungi, sebelum Setia mengenalnya, Biya sudah mengenal Setia meski sekilas namun keberadaan Setia bersama perempuan yang berbeda-beda membuat Biya yakin bahwa laki-laki itu bukanlah laki-laki yang baik.

Biya memang tidak menyukai Setia, perilakunya, juga dibalik namanya.
Setia, mungkin menurut sebagian orang hal itu masih menjadi inti dari sebuah hubungan, saling setia adalah pondasi kepercayaan. Namun sebagian lainnya, hal itu menjadu tabu dan tidak bermakna sama sekali, hanya kepuasan nafsu belaka dan tidak ada kepercayaan diantara hubungan yang dijalani.
Lalu Biya salah satu orang dibagian manakah? Tidak dua-duanya. Dulu Setia adalah hal utama dalam setiap hubungannya, namun berkali-kali hal itu dipatahkan oleh kenyataan bahwa laki-laki tidak bisa hidup dengan satu perempuan, meski perempuan itu menautkan hatinya cukup untuk laki-laki itu. Shena, sahabatnya, berulang kali menuturkan bahwa persepsi baru Biya itu salah, meski kegagalan disetiap hubungannya dikarenakan alasan pengkhianatan, namun Biya tidak layak jika mengatai laki-laki tidak bisa hidup dengan satu perempuan, dan kata setia tidak pernah ada. Shena membuktikan persepsinya itu salah, buktinya Shena sudah menikah dengan laki-laki yang begitu setia dan menjaga kepercayaannya.
Namun seberusaha apapun Shena, kalimat perempuan itu tidak bisa didengar lagi oleh Biya, hatinya terlalu letih kalau hanya untuk sekedar mengulang kembali masa-masa dimana hatinya kembali remuk dan tersakiti karena alasan pengkhianatan.

"Kenapa kamu mengikutiku?"
Tanya Biya dwngan nada ketusnya.

"Mengikutimu? Sejak kapan aku memiliki aktivitas mengikuti perempuan tidak jelas sepertimu."
Balas laki-laki itu lebih ketus. Oh Ya Rabb, dan buktinya Setia begitu menyebalkan.

"Lalu kenapa kamu dibelakangku?"
Tanya Biya tidak mau kalah. Dia begitu kesal jika melihat Setia, mungkin karena setiap yang dilakukan laki-laki itu setiap dicafe bersama perempuan yang berbeda-beda, atau karena namanya yang selalu  membuatnya sedih. Namun belakangan ini, Biya tidak pernah melihat Setia ada dicafe dengan perempuan lain, bahkan mobilnya saja tidak terparkir disana. Ya Tuhan, Biya sadar kalau dirinya begitu memperhatikan laki-laki itu.

"Berjalan. Seperti orang lain. Apa salahnya?"
Jawab laki-laki itu.

Baiklah, dia menang, Biya tidak memiliki bukti lebih untuk menuduh laki-laki itu.

"Yasudah lah, kalau gitu jalan sana."
Ucap Biya kehabisan kata. Daripada dia merasa risih, lebih baik dia menyuruh Setia untuk berjalan duluan.

"Baik."
Jawabnya, sembari membenarkan jas hitamnya dan berjalan layaknya bos besar.

Namun langkahnya terhenti ketika sampai disamping Biya, perempuan yang tadinya melengos , menjadi menoleh kearah Setia berdiri dan memperhatikannya.

Ya Allah, cukup. Hilangkan laki-laki itu dari hadapannya, entah kenapa ada sesuatu aneh yang aku rasakan saat dia melihatiku. Gerutu Biya didalam hatinya.

"Apa?"
Tanya Biya ketus lagi.

"Bisa bicara sopan tidak?, lihat, ada apa dikerudungmu."
Ucapnya sembari kembali melangkahkan kakinya, entah kemana.

Biya yang sejenak berfikir kemanakah laki-laki itu pergi, akhirnya tersadar dengan kalimat terakhir Setia. Ada apa dikerudungmu.
Ada apa memangnya? Perempuan itu menelisik setiap untai kerudungnya, dia tidak menemukan apapun, hanya menemukan jarum pentul sebagai penahan diatas kerudungnya. Dan dia baru sadar, kalau dirinya dikerjai oleh laki-laki itu.

***

Regards

Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...