Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Mari berbagi denganku

Mari berbagi denganku, Aku mencintainya, begitupun kamu. Tapi sayangnya, dia jauh lebih mencintaimu. Dan untuk melepaskannya, aku perlu berpikir berulang kali. Itu tidak akan mungkin. Dia cinta pertamaku, mencari yang lain bukan keahlianku. Aku hanya ingin bersamanya sampai nanti berumur dan beruban. Tapi cintanya jatuh padamu. Kamu yang membuat dia mengalihkan semua kasih sayangnya padamu. Tidak menyalahkan siapapun, apalagi dia. Mana mungkin aku menyalahkan dan menghakimi orang yang aku cintai. Aku hanya mau mempertahankannya, meski harus berbagi. Meski kutau, apa yang kulakukan semakin membuatku sakit.

Kaset Usang

Aku datang saat kamu cari, Aku menenangkan saat kamu emosi, Aku peluk saat melerai, Aku hancur saat semua tak berarti. Ketika kamu kembali lagi padanya, Sekedar menengok pun kamu sudah tak peduli. Baiklah, aku sadar, aku hanya obat penenang saat kamu gusar karenanya. Pundakku hanya dibutuhkan saat tawamu hilang karenanya. Senyumku tak lebih hanya hiburan palsu karena mengingatnya. Ceritamu panjang disana, sedang aku hanya kaset usang yang tak berbentuk, dan hanya menjadi tempat tak berarti untuk menyimpan cerita. Aku memang tidak pantas berada disana, menjalin cerita panjang yang kumimpikan bersamamu.

Dipenghujung senja

Ijinkan aku pergi dipenghujung senja, menenggelamkan diri bersamanya ketika malam. Menghapus semua gelisah yang tak berarah. Mengapa? Ada banyak kata, tapi tak bisa diucapkan karena percuma. Hanya senja yang tau, tapi tak melakukan lebih selain mengajakku tidur. Menutup mata, dan berjanji ketika kukembali membuka mata, semuanya akan indah. Tapi percuma. Saat kukembali membuka mata, semuanya tetap sama. Dan tak adapun yang indah seperti yang dijanjikannya. Yang ada hanya luka, yang tak tau akan sembuh sampai kapan.

Meski duduk berdua, bukan berarti kita bersama

Kita menyatukan cerita, hingga tau isi hati yang tak terduga. Pada pandangan itu, aku ingin meleleh hingga tak bisa lagi beku sempurna. Aku bahagia sekaligus hancur seketika. Mengapa? Meski duduk berdua, bukan berarti kita bersama. Dunia mengiyakan, mencari bukti bahwa kita sempurna. Tapi tak bisa lebih dari hanya melempar pandangan, mencuri perhatian, dan merangkul bayangan. Berdekatan hanya semakin membuat rasa nyaman itu berkembang lebih. Dan tak tau diri. Semakin larut dalam pembicaraan, semakin kumengerti bahwa ini mustahil. Kehilanganmu, sudah pasti, dan harusnya aku mulai belajar dari sekarang. Tapi, rasa nyaman itu mengelak segala usaha. Dan ego tak bisa mempermainkan perasaan.

Tempat singgah ketika letih

Aku masih menahanmu, Dalam luka yang kita anggap suka. Suka yang membuat kita enggan pergi. Berulang kali aku memintamu menetap, Meski kutau tetap bukan aku tempatmu berhenti. Aku hanya tempat singgah ketika kamu letih. Jangan tanya sampai kapan aku begini, Karena yang kurasakan bukan sebuah alibi, Melainkan hati. Aku mengikuti hati, Dan hati memilihmu. Lalu, apa aku harus menunggumu? Jika aku sadar, kamu bukan untukku. Bukan. Dan, tidak akan. Cukup sekian. Karena aku tau hatiku tetap tidak beraturan.

Pasir Putih

Seperti pasir putih diujung pantai, Menunggu air kembali mendekat, hanya untuk sekedar mengucapkan "hai". Lalu hilang, bersama sekawannya. Menyisakan sapa itu menjadi cinta. Hingga pasir tak berniat untuk beranjak, Karena dia tau air akan mendekat padanya. Lagi dan lagi. Kemudian pergi lagi. Tak apa, pasir tak pernah mengeluh. Karena dengan cara itu dia menguarkan rindu. Menanti sapaan air yang membuatnya bahagia berharu. Berela diri untuk menjadi tumpuan yang bisa saja berhambur. Menahan luka yang membuatnya berkabur. Demi menemukannya kembali. . Air yang terus mempermainkan pasir. Datang dan dan berangsur pergi.

Aku pengharap yang mustahil

Kutatap matamu, mencari arti dari semua yang terjadi selama ini; perhatianmu, rindumu, katamu, hingga bait tulisan dalam pesanmu. Sungguh adakah aku disana? Sepenting itukah aku dihidupmu selama ini? Dan pantaskah aku bertanya seperti itu. Pada seseorang yang raganya sudah dimiliki orang lain. Keterlaluan jika ku menginginkan ini lebih. Menahanmu dalam perasaan ini. Memintamu disini, dan membiarkannya menunggumu. Menunggu seseorang yang sudah pasti untuknya. Sedang aku? Menahan seseorang yang hanya sekejap dalam dekapan, lalu menghilang bersama rindumu padanya. Boleh aku berharap? Pada hal-hal yang mustahil sebenarnya. Menggantikan semua luka diantara kita, menjadi bahagia yang tak terduga. Andai bisa. Aku hanya ingin pertemuan kita membuatmu senang, bukan bersenang-senang. Dua kata yang hampir sama, tapi memiliki makna yang sangat berbeda. Aku ingin menjadi alasanmu berbahagia, bukan alasanmu tertawa. Karena terkadang tawa menjadi penyembunyi luka paling ulung. Aku, pen...