Mari berbagi denganku,
Aku mencintainya, begitupun kamu. Tapi sayangnya, dia jauh lebih mencintaimu.
Dan untuk melepaskannya, aku perlu berpikir berulang kali. Itu tidak akan mungkin.
Dia cinta pertamaku, mencari yang lain bukan keahlianku. Aku hanya ingin bersamanya sampai nanti berumur dan beruban.
Tapi cintanya jatuh padamu. Kamu yang membuat dia mengalihkan semua kasih sayangnya padamu.
Tidak menyalahkan siapapun, apalagi dia.
Mana mungkin aku menyalahkan dan menghakimi orang yang aku cintai.
Aku hanya mau mempertahankannya, meski harus berbagi.
Meski kutau, apa yang kulakukan semakin membuatku sakit.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu