Kita menyatukan cerita, hingga tau isi hati yang tak terduga.
Pada pandangan itu, aku ingin meleleh hingga tak bisa lagi beku sempurna.
Aku bahagia sekaligus hancur seketika.
Mengapa?
Meski duduk berdua, bukan berarti kita bersama.
Dunia mengiyakan, mencari bukti bahwa kita sempurna. Tapi tak bisa lebih dari hanya melempar pandangan, mencuri perhatian, dan merangkul bayangan.
Berdekatan hanya semakin membuat rasa nyaman itu berkembang lebih. Dan tak tau diri.
Semakin larut dalam pembicaraan, semakin kumengerti bahwa ini mustahil.
Kehilanganmu, sudah pasti, dan harusnya aku mulai belajar dari sekarang.
Tapi, rasa nyaman itu mengelak segala usaha. Dan ego tak bisa mempermainkan perasaan.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu