Seperti pasir putih diujung pantai,
Menunggu air kembali mendekat, hanya untuk sekedar mengucapkan "hai".
Lalu hilang, bersama sekawannya.
Menyisakan sapa itu menjadi cinta.
Hingga pasir tak berniat untuk beranjak,
Karena dia tau air akan mendekat padanya.
Lagi dan lagi.
Kemudian pergi lagi.
Tak apa, pasir tak pernah mengeluh.
Karena dengan cara itu dia menguarkan rindu.
Menanti sapaan air yang membuatnya bahagia berharu.
Berela diri untuk menjadi tumpuan yang bisa saja berhambur.
Menahan luka yang membuatnya berkabur.
Demi menemukannya kembali.
.
Air yang terus mempermainkan pasir.
Datang dan dan berangsur pergi.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu