Aku datang saat kamu cari,
Aku menenangkan saat kamu emosi,
Aku peluk saat melerai,
Aku hancur saat semua tak berarti.
Ketika kamu kembali lagi padanya,
Sekedar menengok pun kamu sudah tak peduli.
Baiklah, aku sadar, aku hanya obat penenang saat kamu gusar karenanya.
Pundakku hanya dibutuhkan saat tawamu hilang karenanya.
Senyumku tak lebih hanya hiburan palsu karena mengingatnya.
Ceritamu panjang disana, sedang aku hanya kaset usang yang tak berbentuk, dan hanya menjadi tempat tak berarti untuk menyimpan cerita.
Aku memang tidak pantas berada disana, menjalin cerita panjang yang kumimpikan bersamamu.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu