Ijinkan aku pergi dipenghujung senja, menenggelamkan diri bersamanya ketika malam.
Menghapus semua gelisah yang tak berarah.
Mengapa? Ada banyak kata, tapi tak bisa diucapkan karena percuma.
Hanya senja yang tau, tapi tak melakukan lebih selain mengajakku tidur. Menutup mata, dan berjanji ketika kukembali membuka mata, semuanya akan indah. Tapi percuma.
Saat kukembali membuka mata, semuanya tetap sama. Dan tak adapun yang indah seperti yang dijanjikannya. Yang ada hanya luka, yang tak tau akan sembuh sampai kapan.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu