Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Tuan tak tau

Mungkin tuan tak tau, Ada hati yang iri pada dirinya, kekasihmu. Memilikimu, tanpa takut pada waktu, Mencintaimu, tanpa perlu menahanmu. Luar biasa, Aku iri pada seseorang yang telah memilikimu. Tuan tak perlu takut ketika melihat ku menangis, Karena mungkin dengan cara ini aku tau rasanya sakit mencintai tanpa bisa memiliki. Tuan tak perlu menyesal, Sebab salahku yang mau masuk ketika kamu persilahkan. Maafkan aku tuan, Terlalu meminta perhatianmu lebih, Meminta yang bukan hakku. Kurang ajar memang.

Kenapa harus aku yang disembunyikan?

Baca sebelumnya : Ku sembunyikan luka dengan tersenyum Aku dan kamu sekarang sedang berbelanja di Supermarket. Layaknya seorang suami-istri; meminta pendapat sebelum memilih, saling membandingkan harga produk, memilah antara yang dibutuhkan dan tidak, juga menggandeng lenganmu. Kamu sedikit terhenyak ketika tanpa sengaja tanganku melingkar dilenganmu. Kamu memandangku seolah "benar ini sedang kamu lakukan?". Dan saat itu aku baru sadar dengan apa yang aku lakukan. Refleks tanganku beralih dari lenganmu, sungguh aku hanya ingin menjaga privasimu, aku takut jika teman atau orang yang kenal denganmu dan dia melihat ini semua. Aku hanya takut itu. Bukannya sepertiku, kamu malah tersenyum menggoda. Seolah tidak peduli atas kekhawatiranku. Setelah sampai di sebuah rumah seseorang yang bisa dikatakan masih membutuhkan, kita memberi beberapa makanan, bahan pokok, minuman dan lain sebagainya, yang kita beli tadi, dan sudah dikemas menjadi sebuah parsel. Sedikit berbincang dengan ...

Berpura-pura

Ketika berduka, bukan senyuman yang diminta, Namun airmata. Terlalu banyak senyum yang kamu hamparkan, hingga kamu lupa sesak akan terasa lega bila kamu berhenti berpura-pura. Cukup menjadi orang yang berpura-pura, Kebohongan dengan senyum, sebenarnya cukup melukai banyak orang. Tertawa, bersorak ria, bercanda, ternyata menjadi anggapan mereka bahwa kamu masa bodoh, kamu tak peduli dengan masalah yang kamu punya sekarang. Padahal, maksudmu hanya tak ingin menjadi orang lemah yang butuh belas kasihan, yang meminta pertolongan. Tidak. Maka, berhentilah berpura-pura. Berhentilah tersenyum ketika hatimu menangis. Kamu tak kuat seperti baja, Kamu hanya perempuan yang kebalnya sebatas karang. Hantaman kecil, mungkin hanya mengoyak tubuhmu. Namun, ketika hantaman kecil itu lambat laun membesar, tubuhmu akan hancur olehnya. Bangunlah, dan lihat dirimu di cermin. Bertanyalah pada dirimu, apakah kamu sudah bahagia? Bahagiakah ketika dipaksa untuk apa yang tidak dikehendaki? Bahagia...

Kusembunyikan luka dengan tersenyum

Baca sebelumnya : Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu Aku baik-baik saja. Tenang. Tak perlu mengkhawatirkanku. Kamu mengulang untuk mengecup keningku, kecupan yang penuh kasih sayang dan aku selalu terbuai. Aku mengerjap setelah kamu memberi jarak pada wajah kita yang tadinya tak ada sejengkal pun. Kamu tersenyum dengan teduh ketika melihatku sudah tenang. "Aku benci ketika kamu menangis." Ucapan itu yang selalu ku dengar saat aku tidak bisa menyembunyikan airmata yang jatuh. Sama halnya denganmu, aku juga benci dengan diriku sendiri yang terlalu mencintaimu hingga lupa siapa aku sekarang. Yang tidak lebih hanya teman; dimata banyak orang. Aku selalu masa bodoh, padahal aku membenarkan. Aku selalu tuli, padahal aku mengiyakan. Ya, kita hanya teman. Tapi kita cocok menjadi kekasih. Seolah masih membela diri, aku sedikit bersikap egois. Buliran bening yang kamu benci, kembali meluncur dengan santainya. Membuktikan bahwa aku terlihat lemah sekarang. Rencana...

Bertemu setelah sekian lama

Setelah banyak perencanaan, dan selalu batal. Akhirnya kemarin siang kita bertemu, tanpa direncakan, tanpa dijadwalkan, tanpa ba bi bu. Kita janjian di sebuah cafe. Aku mengirim share location, dan membubuhi sedikit ucapan hati-hati. "Jangan ngebut-ngebut, because keselamatan is first." Kataku dalam pesan. Tidak lama, kamu membalas pesanku dan bilang bahwa sudah sampai. Mataku mengedar keluar cafe, tapi tidak ada seseorang yang memarkirkan motornya didepan, atau pun tidak ada juga seseorang yang berjalan kedalam cafe. Akh, jangan-jangan dia salah tempat. Aku menelponmu, takut terjadi ada apa-apa. Dan kamu langsung mengangkatnya. "Halo?" Suara diseberang masih terdengar berisik oleh kendaraan. "Halo, kamu dimana? Katanya sudah sampek. Kok gak ada siapa-siapa yang dateng. Salah tempat?" Ucapku banyak sekali. "Maksudku baru sampek di dekat terminal." Jawabmu sembari tertawa, menertawai kekhawatiranku atau bagaimana? Aku berdecak. Masih sama ...

Pelukan yang selalu kurindukan

Sejauh ini kaki melangkah, yang ada dan selalu ini nyatanya adalah aku, perempuan yang kamu sembunyikan. Bukan enggan meminta kepastian, tapi aku tak punya hak untuk hal itu. Hari ini, kamu berulang tahun. Seperti tahun kemarin, aku mencari cara agar bisa merayakannya, berusaha sendirian, tanpa bantuan siapapun. Memikirkan konsep sederhana tapi berkesan bagimu. Kamu masuk dalam ruangan, tidak ada tulisan selamat ulang tahun, ataupun balon-balon seperti yang dilakukan oleh kekasihmu. Aku hanya menyiapkan kue kecil dan lilin, disana hanya ada aku dan kamu. Sembari membawa kue kecil tersebut, aku mengucapkan selamat, disana aku melihat senyum mengembang dengan sempurna. "Kamu mengingatnya?" Tanyanya dengan mengelus lembut pipiku. Matanya nanar. "Dan kamu menyiapkannya sendiri?" "Siapa yang mau membantuku?" Tanyaku balik. Tidak ada, jawabku sendiri. Tidak ada yang mau membantuku. Bukannya membantu, mereka malah akan mempertanyakan statusku apa, dan ada ha...

Rasamu bukan coklat yang habis ketika dilumat

Ayo kemari, kita duduk santai, Menyecap kopi sembari bercerita tentang yang sudah-sudah. Berceritalah tentangmu, yang kemarin tak menyapaku sama sekali. Yang memalingkan wajah hanya untuk melukaiku. Mengapa kamu melakukan itu? Seolah masih berpura-pura, kamu tetap tak bisa menolak. Rasamu, bukan gula yang mencair ketika diaduk, Rasamu, bukan coklat yang habis ketika dilumat, Rasamu, bukan duri yang tumpul ketika dipatahkan, Rasamu jauh lebih dari itu. Yang tidak hilang hanya dengan jentikan jari. Kamu bisa berbohong, tapi matamu selalu jujur kala melihatku. Kamu jangan menghilang, biar aku yang pergi jika menurutmu itu jauh lebih baik. Dan bila kamu berubah pikiran, cari aku dilubuk hatimu, maka kamu akan menemukanku disana. Karena nyatanya, aku tidak bisa hilang dari hidupmu, begitupun kamu dihidupku.

Laki-laki ini enggan pergi dan ingin menetap

Ketika pundak yang menjadi sesuatu ternyaman dimalammu ini, laki-laki ini rela meski harus menopangnya. Laki-laki yang kali pertama bertemu, telah jatuh dan tak dapat bangun meski dengan merangkak. Laki-laki ini meminta maaf, jika dengan mempersilahkanmu, menjadi hal menyakitkan hingga saat ini. Siapa yang tidak mau membuka, ketika seseorang yang diharap ada didepan pintu? Bahkan ketika logika berteriak jangan, hati memberontak seolah dia lah yang punya keputusan. Laki-laki ini enggan pergi dan ingin menetap, tapi seseorang dari masa lalu menyeret hingga melepas pelukan, dan membangunkanmu dari pundak ini. Lantas kamu malah beringsut, mencengkram lenganku untuk tak pergi. Sejatuh ini kah kita? Dan laki-laki ini hanya bisa menatapmu sedih. Ketika kamu yang datang di akhir, ketika ku telah bersama orang di masa lalu.

Wanita ini lah yang rela dihabisi rindu

Ditempat ini, Kita selalu menghabiskan waktu, Bercengkrama, tertawa lepas, dan bercerita tentang hari ini, sesekali kamu mengecup wanita ini yang akan terus jatuh cinta akan kecupan itu. Dan kamu selalu tertawa ketika wanita ini meringis kesakitan. Ya, wanita ini lah yang rela dihabisi oleh rindu, Dan wanita ini lah yang tak tau malu telah menahanmu ketika dia sedang menunggu, Apa boleh buat, ini salahmu! Kamu telah menyeret wanita ini hingga mengikutimu. Kamu mempersilahkan yang harusnya tak perlu kamu buka. Wanita ini tau, caramu menatap sudah banyak jutaan rasa didalamnya. Hingga dengan hanyut, menjadi jalan yang menggila. Dicerca, mungkin sudah semestinya, jika seluruh dunia tau, aku yang menahanmu untuk tak pulang. Dan kamu selalu takut, wanita yang selalu kamu jaga ini disakiti oleh perkataan mereka, yang memang benar adanya. Jika itu benar terjadi, tak apa. Asal aku bisa mendapatkanmu seutuhnya, tanpa meminta dari wanita lain.