Langsung ke konten utama

Bertemu setelah sekian lama

Setelah banyak perencanaan, dan selalu batal.
Akhirnya kemarin siang kita bertemu, tanpa direncakan, tanpa dijadwalkan, tanpa ba bi bu.
Kita janjian di sebuah cafe.

Aku mengirim share location, dan membubuhi sedikit ucapan hati-hati. "Jangan ngebut-ngebut, because keselamatan is first." Kataku dalam pesan.
Tidak lama, kamu membalas pesanku dan bilang bahwa sudah sampai. Mataku mengedar keluar cafe, tapi tidak ada seseorang yang memarkirkan motornya didepan, atau pun tidak ada juga seseorang yang berjalan kedalam cafe. Akh, jangan-jangan dia salah tempat.

Aku menelponmu, takut terjadi ada apa-apa. Dan kamu langsung mengangkatnya.

"Halo?" Suara diseberang masih terdengar berisik oleh kendaraan.

"Halo, kamu dimana? Katanya sudah sampek. Kok gak ada siapa-siapa yang dateng. Salah tempat?" Ucapku banyak sekali.

"Maksudku baru sampek di dekat terminal." Jawabmu sembari tertawa, menertawai kekhawatiranku atau bagaimana? Aku berdecak. Masih sama seperti dulu, pikirku.

"Yaudah kamu lurus aja, nanti di kiri jalan ya." Ucapku.

"Oke siaaap. Because keselamatan is first." Jawabnya yang buatku tertawa. Akh dia mengulangi ucapan hati-hatiku tadi.

Kemudian, seseorang masuk ke dalam cafe, dengan posisi kita masih saling telpon menelpon. "Assalamualaikum." Ucapmu ketika memasuki cafe, aku tertawa ketika melihatnya sedang menguluk salam dan jadi perhatian banyak orang. Akh lagi-lagi, kamu masih sama seperti dulu.

Setelah sekian lama, sejak terakhir kita bertemu dipersimpangan, dan kamu enggan melihatku. Akhirnya kita bertemu, dengan keadaan baik-baik saja, saling menimpali senyum. Senyum yang sudah lama tidak kulihat secara kasat mata.

"Hai." Kita saling menjabat tangan. Kalau kamu tau, aku sedang berkeringat dingin. Entah kenapa aku gugup dengan pertemuan ini.

Kita berbincang, hingga lupa waktu. Ya, seperti itu kita dulu. Membicarakan hal dari yang kecil hingga besar, dari yang receh hingga serius. Dan kita selalu nyambung.

Yang menjadi pertanyaan sejauh ini, apakah kamu sudah tidak ada rasa sedikitpun untukku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...