Langsung ke konten utama

Pelukan yang selalu kurindukan

Sejauh ini kaki melangkah, yang ada dan selalu ini nyatanya adalah aku, perempuan yang kamu sembunyikan.
Bukan enggan meminta kepastian, tapi aku tak punya hak untuk hal itu.

Hari ini, kamu berulang tahun. Seperti tahun kemarin, aku mencari cara agar bisa merayakannya, berusaha sendirian, tanpa bantuan siapapun. Memikirkan konsep sederhana tapi berkesan bagimu.

Kamu masuk dalam ruangan, tidak ada tulisan selamat ulang tahun, ataupun balon-balon seperti yang dilakukan oleh kekasihmu. Aku hanya menyiapkan kue kecil dan lilin, disana hanya ada aku dan kamu. Sembari membawa kue kecil tersebut, aku mengucapkan selamat, disana aku melihat senyum mengembang dengan sempurna.

"Kamu mengingatnya?" Tanyanya dengan mengelus lembut pipiku. Matanya nanar. "Dan kamu menyiapkannya sendiri?"

"Siapa yang mau membantuku?" Tanyaku balik. Tidak ada, jawabku sendiri. Tidak ada yang mau membantuku. Bukannya membantu, mereka malah akan mempertanyakan statusku apa, dan ada hak apa aku merayakan ulang tahunmu. "Ayo make a wish." Aku tidak mau memperpanjang persoalan itu. Karena tidak akan ada habisnya.

"Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu meminta kita dipersatukan, entah bagaimana pun caranya. Aku selalu mencintaimu, selalu." Ucapnya, yang seharusnya diucapkan dalam hati, tidak secara terang-terangan seperti ini, yang buat pipiku memerah, dan sinkron airmataku hendak terjatuh, antara ingin menangisi keadaan ini, juga bahagia telah kamu cintai.

Kamu mengambil kue ditanganku, meletakkannya dimeja yang ada diseberang. Lalu kembali kearahku. Menatapku dengan sendu, jemarimu menjelajah dipipiku, "Terimakasih." Ucapmu sembari semakin mendekat, dan tak lama bibir itu mengecup keningku. Menyalurkan kehangatan yang membuatku merasakan kenyamanan. Tidak lama kemudian tubuh tegap itu mendekap, seakan mengisyaratkan melarangku untuk pergi.

Airmataku jatuh satu persatu, "Jangan tinggalin aku." Ucapku lirih.

"Aku yang harusnya bilang seperti itu. Jangan pernah tinggalin aku." Ucapnya semakin mengeratkan pelukan.

Pelukan yang selalu kurindukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...