Baca sebelumnya : Ku sembunyikan luka dengan tersenyum
Aku dan kamu sekarang sedang berbelanja di Supermarket. Layaknya seorang suami-istri; meminta pendapat sebelum memilih, saling membandingkan harga produk, memilah antara yang dibutuhkan dan tidak, juga menggandeng lenganmu.
Kamu sedikit terhenyak ketika tanpa sengaja tanganku melingkar dilenganmu. Kamu memandangku seolah "benar ini sedang kamu lakukan?".
Dan saat itu aku baru sadar dengan apa yang aku lakukan. Refleks tanganku beralih dari lenganmu, sungguh aku hanya ingin menjaga privasimu, aku takut jika teman atau orang yang kenal denganmu dan dia melihat ini semua. Aku hanya takut itu.
Bukannya sepertiku, kamu malah tersenyum menggoda. Seolah tidak peduli atas kekhawatiranku.
Setelah sampai di sebuah rumah seseorang yang bisa dikatakan masih membutuhkan, kita memberi beberapa makanan, bahan pokok, minuman dan lain sebagainya, yang kita beli tadi, dan sudah dikemas menjadi sebuah parsel. Sedikit berbincang dengan pemilik rumah, dan beliau mengucap banyak terima kasih.
Aku dan kamu berjalan sembari melempar senyum bahagia. Bahagia karena sisa dari gaji kita berdua, bisa membantu yang lainnya.
"Makasih ya," ucapmu saat kita sudah kembali, dan berada di cafe langganan.
Aku mengernyitkan alis bingung ketika kamu tiba-tiba mengucap terimakasih.
"Baru kali ini, aku merasa bahagia. Ternyata berbagi itu menyenangkan ya. Dan ini semua berkat kamu." Tambahmu dengan wajah yang masih berseri-seri, iya sama dengan wajahku pun seperti itu.
"Berbagi bukan cuma karena berharap ucapan terimakasih dari orang yang kita beri, tapi juga karena kebahagiaan hati orang yang telah kita beri. Jika mereka bahagia, maka otomatis mereka akan mendoakan kita; diberi rezeki yang lancar, panjang umur dan segala macamnya, supaya dilain waktu kita bisa saling berbagi lagi." Jelasku. Dan tadi sewaktu dalam perjalanan, kamu mau kita menyisakan uang gaji setiap bulannya untuk berbagi lagi, jika bisa tidak hanya satu orang, tapi bisa lebih.
"Bener banget, bentar..." Ucapmu sembari merogoh tas karena ponselmu berdering. Kamu memberiku isyarat, dan beranjak menjauh untuk mengangkat telpon dari dia, kekasihmu.
Tidak lama kamu kembali, dan tersenyum simpul ketika aku melihatmu.
"Kenapa?" Tanyaku. Ingin rasanya tau apa yang sedang kalian perbincangkan tadi.
"Gapapa, dia lagi dirumah bawain durian untuk Mama." Jawabmu. Yang tiba-tiba membuatku meringis.
Aku juga ingin mengenal orang tuamu, membawakan apapun yang sedang diinginkan oleh mereka. Menyayangi mereka seperti aku menyayangi kedua orang tuaku. Merawat mereka bersamamu nanti bila tua. Tapi, apakah kamu mau mengenalkanku pada kedua orang tua mu? Seperti dia yang tanpamu saja, sudah sangat akrab dengan mereka.
"Aku iri dengan dia, kekasihmu." Ucapku santai sembari menyecap minuman. Tapi jika kamu tau, aku tidak sesantai itu.
"Kamu iri yang bagaimana? Hati, raga, waktu, cinta dan semuanya yang ada padaku sudah kamu miliki. Setiap hari aku lebih banyak bersamamu bukan?" Ucapmu juga santai, tidak tau apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku sekarang.
"Benar. Tapi semua itu tidak ada apa-apanya dengan status." Kamu menatapku, dan aku masih berusaha sesantai tadi. "Bukan begitu? Semua yang aku miliki darimu itu hanya sementara. Dan akan menjadi milik dia selamanya, karena dia yang punya status." Elakku. Benar kan? Tidak ada yang salah dari ucapanku kan? Nyatanya memang seperti itu.
"Aku tau diri kok. Aku yang selama ini kamu sembunyikan. Dan aku berterimakasih, karena kamu rela aku miliki." Bodohnya aku yang mulai banyak bicara, dan kamu mulai diam. Aku dan kamu paling tidak suka jika sudah berdebat masalah ini. Tapi apa aku salah mengutarakan sedikit saja kata yang membuat hatiku perih?
Aku tersenyum lagi. Menunjukkan padamu bahwa aku baik-baik saja. Ucapanku tadi hanya sebatas rasa kesal.
Kamu meneruskan menyecap minumanmu, seolah tak mendengar semua yang aku katakan tadi. Senyumku tadi berubah menjadi kecut. Ya, mungkin memang aku tidak dihiraukan. Aku kembali mengaduk minumanku, dan menyecap lagi untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak bisa memberikan status itu saat ini, aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu. Tapi aku sudah bilang berulang kali, percayalah. Aku tidak akan meninggalkanmu setelah semua yang sudah kamu miliki saat ini, kita akan tetap saling memiliki. Tunggu, sampai nanti waktunya kita benar-benar bersama, dan status itu kamu miliki." Ucapmu diluar ekspektasiku tadi, yang kukira kamu acuh.
Betapa aku melihat cinta itu, entah bagaimana cara aku bisa mendeskripsikannya.
Seperti kemarin, aku sengaja melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh dia, kekasihmu. Ku kira kamu akan marah besar seperti saat dia melakukan kesalahan, tapi ternyata kamu memilih berbicara baik-baik denganku, saat aku melakukan kesalahan. Kamu memberi maaf sebelum aku meminta maaf.
Entah apa yang membuatku dan dia beda dimatamu. Aku pecemburu, aku lebih sering meminta waktumu, aku banyak omong kalau sudah denganmu, aku suka memprotes.
Tapi kenapa harus aku yang menjadi kedua?
Kenapa harus aku yang kamu sembunyikan?
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu