Ketika berduka, bukan senyuman yang diminta,
Namun airmata.
Terlalu banyak senyum yang kamu hamparkan, hingga kamu lupa sesak akan terasa lega bila kamu berhenti berpura-pura.
Cukup menjadi orang yang berpura-pura,
Kebohongan dengan senyum, sebenarnya cukup melukai banyak orang.
Tertawa, bersorak ria, bercanda, ternyata menjadi anggapan mereka bahwa kamu masa bodoh, kamu tak peduli dengan masalah yang kamu punya sekarang.
Padahal, maksudmu hanya tak ingin menjadi orang lemah yang butuh belas kasihan, yang meminta pertolongan. Tidak.
Maka, berhentilah berpura-pura.
Berhentilah tersenyum ketika hatimu menangis.
Kamu tak kuat seperti baja,
Kamu hanya perempuan yang kebalnya sebatas karang.
Hantaman kecil, mungkin hanya mengoyak tubuhmu. Namun, ketika hantaman kecil itu lambat laun membesar, tubuhmu akan hancur olehnya.
Bangunlah, dan lihat dirimu di cermin. Bertanyalah pada dirimu, apakah kamu sudah bahagia?
Bahagiakah ketika dipaksa untuk apa yang tidak dikehendaki?
Bahagiakah ketika memiliki yang tidak diinginkan?
Bahagiakah ketika kamu hanya punya pilihan untuk mengangguk?
Bahagiakah? Coba tanya dirimu di cermin yang tersenyum, tapi airmatanya sudah mengalir deras.
Berhentilah berpura-pura, jangan sampai hatimu menjadi mati rasa, karena asa yang tak kuasa.
Katakan, jika itu menjadi pilihan.
Untuk apa mengalir, bila tak pernah berhilir.
Untuk apa berjalan, bila tak pernah sampai tujuan.
Untuk apa mendengar, bila tak ada satupun yang sangar.
Untuk apa memejam, bila hanya mimpi suram dan kelam.
Keluarlah, sudah lama kamu menyelam,
Sudah banyak air yang kamu minum.
Berhentilah bersembunyi dibalik senyummu.
Adakalanya duka untuk dibuka,
Agar mereka tau, masamu bahagia sudah berlalu panjang diwaktu yang lalu.
Kini semua hanya penuh kepura-puraan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu