Langsung ke konten utama

Berpura-pura

Ketika berduka, bukan senyuman yang diminta,
Namun airmata.
Terlalu banyak senyum yang kamu hamparkan, hingga kamu lupa sesak akan terasa lega bila kamu berhenti berpura-pura.
Cukup menjadi orang yang berpura-pura,
Kebohongan dengan senyum, sebenarnya cukup melukai banyak orang.
Tertawa, bersorak ria, bercanda, ternyata menjadi anggapan mereka bahwa kamu masa bodoh, kamu tak peduli dengan masalah yang kamu punya sekarang.
Padahal, maksudmu hanya tak ingin menjadi orang lemah yang butuh belas kasihan, yang meminta pertolongan. Tidak.

Maka, berhentilah berpura-pura.
Berhentilah tersenyum ketika hatimu menangis.
Kamu tak kuat seperti baja,
Kamu hanya perempuan yang kebalnya sebatas karang.
Hantaman kecil, mungkin hanya mengoyak tubuhmu. Namun, ketika hantaman kecil itu lambat laun membesar, tubuhmu akan hancur olehnya.

Bangunlah, dan lihat dirimu di cermin. Bertanyalah pada dirimu, apakah kamu sudah bahagia?

Bahagiakah ketika dipaksa untuk apa yang tidak dikehendaki?
Bahagiakah ketika memiliki yang tidak diinginkan?
Bahagiakah ketika kamu hanya punya pilihan untuk mengangguk?
Bahagiakah? Coba tanya dirimu di cermin yang tersenyum, tapi airmatanya sudah mengalir deras.

Berhentilah berpura-pura, jangan sampai hatimu menjadi mati rasa, karena asa yang tak kuasa.
Katakan, jika itu menjadi pilihan.
Untuk apa mengalir, bila tak pernah berhilir.
Untuk apa berjalan, bila tak pernah sampai tujuan.
Untuk apa mendengar, bila tak ada satupun yang sangar.
Untuk apa memejam, bila hanya mimpi suram dan kelam.

Keluarlah, sudah lama kamu menyelam,
Sudah banyak air yang kamu minum.
Berhentilah bersembunyi dibalik senyummu.
Adakalanya duka untuk dibuka,
Agar mereka tau, masamu bahagia sudah berlalu panjang diwaktu yang lalu.
Kini semua hanya penuh kepura-puraan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...