Baca sebelumnya : Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu
Aku baik-baik saja. Tenang. Tak perlu mengkhawatirkanku.
Kamu mengulang untuk mengecup keningku, kecupan yang penuh kasih sayang dan aku selalu terbuai.
Aku mengerjap setelah kamu memberi jarak pada wajah kita yang tadinya tak ada sejengkal pun. Kamu tersenyum dengan teduh ketika melihatku sudah tenang.
"Aku benci ketika kamu menangis." Ucapan itu yang selalu ku dengar saat aku tidak bisa menyembunyikan airmata yang jatuh.
Sama halnya denganmu, aku juga benci dengan diriku sendiri yang terlalu mencintaimu hingga lupa siapa aku sekarang. Yang tidak lebih hanya teman; dimata banyak orang.
Aku selalu masa bodoh, padahal aku membenarkan.
Aku selalu tuli, padahal aku mengiyakan.
Ya, kita hanya teman. Tapi kita cocok menjadi kekasih.
Seolah masih membela diri, aku sedikit bersikap egois.
Buliran bening yang kamu benci, kembali meluncur dengan santainya. Membuktikan bahwa aku terlihat lemah sekarang.
Rencana itu sudah kalian bicarakan, dan aku sebagai penonton harus siap berpura-pura. Mungkin lambat laun genggaman eratmu akan terlepas, senyuman khasmu akan memudar, dan pelukan hangatmu akan mendingin.
Baik. Itu sebuah konsekuensi bukan?
"Tidak ada rencana. Tidak ada apapun. Percaya aku." Kamu masih berusaha meyakinkanku. Membuatku percaya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Kamu yakin?
Tidak ada yang mau digantung, tidak ada yang mau tidak diberi kepastian. Tidak ada. Kecuali aku. Abaikan saja aku.
Tapi bagaimana dengannya? Yang selama ini kamu tunjukkan pada khalayak. Yang sudah kamu persilahkan masuk ke rumah, dan memperkenalkan diri pada orang tuamu. Yang pernah kamu lingkarkan cincin di jari manisnya. Apa dia tak merengek untuk minta berbahagia selamanya denganmu?
"Kalian berhak berbahagia..." Belum selesai aku berbicara, dekapan itu membungkam mulutku. Kamu membawaku lagi pada pelukan itu. Pelukan yang selalu menghangatkanku, dan lupa bahwa tubuh itu bukan untukku, dada bidang itu bukan sandaranku yang sesungguhnya.
Seolah mengalirkan duka, kamu enggan melepas pelukan itu. Aku merasakan bahwa kamu inginku berhenti berbicara, dan mau bersamamu kali ini, berjalan disampingmu untuk waktu ini, dan tidak ada jarak dalam hubungan ini. Kamu egois ya. Baik.
Aku menghapus airmata, dan melepas pelukanmu. Benar, matamu sayu. Aku tau sekali kamu tidak bisa dan tidak mau menunjukkan kesedihan, atau menangis didepanku. Kamu paling anti. Tapi aku bisa merasakannya. Aku bisa tau hanya dengan melihat wajahmu.
Kamu berusaha memelukku lagi, tapi aku menolak. Kusunggingkan senyum bahagia. Sudah tau kan, kamu paling benci ketika aku menangis, dan kamu tidak pernah mau melihatnya.
Maka dengan tersenyum, aku bisa membuatmu sedikit lega.
Dengan tersenyum, aku bisa menyembunyikan lukaku.
Luka yang tak kasat mata, dan itu karena hubungan kita.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu