Langsung ke konten utama

Kusembunyikan luka dengan tersenyum

Baca sebelumnya : Pelukan milikmu menghangatkan tubuhku kala itu

Aku baik-baik saja. Tenang. Tak perlu mengkhawatirkanku.

Kamu mengulang untuk mengecup keningku, kecupan yang penuh kasih sayang dan aku selalu terbuai.
Aku mengerjap setelah kamu memberi jarak pada wajah kita yang tadinya tak ada sejengkal pun. Kamu tersenyum dengan teduh ketika melihatku sudah tenang.

"Aku benci ketika kamu menangis." Ucapan itu yang selalu ku dengar saat aku tidak bisa menyembunyikan airmata yang jatuh.

Sama halnya denganmu, aku juga benci dengan diriku sendiri yang terlalu mencintaimu hingga lupa siapa aku sekarang. Yang tidak lebih hanya teman; dimata banyak orang.
Aku selalu masa bodoh, padahal aku membenarkan.
Aku selalu tuli, padahal aku mengiyakan.
Ya, kita hanya teman. Tapi kita cocok menjadi kekasih.
Seolah masih membela diri, aku sedikit bersikap egois.

Buliran bening yang kamu benci, kembali meluncur dengan santainya. Membuktikan bahwa aku terlihat lemah sekarang.

Rencana itu sudah kalian bicarakan, dan aku sebagai penonton harus siap berpura-pura. Mungkin lambat laun genggaman eratmu akan terlepas, senyuman khasmu akan memudar, dan pelukan hangatmu akan mendingin.
Baik. Itu sebuah konsekuensi bukan?

"Tidak ada rencana. Tidak ada apapun. Percaya aku." Kamu masih berusaha meyakinkanku. Membuatku percaya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Kamu yakin?

Tidak ada yang mau digantung, tidak ada yang mau tidak diberi kepastian. Tidak ada. Kecuali aku. Abaikan saja aku.
Tapi bagaimana dengannya? Yang selama ini kamu tunjukkan pada khalayak. Yang sudah kamu persilahkan masuk ke rumah, dan memperkenalkan diri pada orang tuamu. Yang pernah kamu lingkarkan cincin di jari manisnya. Apa dia tak merengek untuk minta berbahagia selamanya denganmu?

"Kalian berhak berbahagia..." Belum selesai aku berbicara, dekapan itu membungkam mulutku. Kamu membawaku lagi pada pelukan itu. Pelukan yang selalu menghangatkanku, dan lupa bahwa tubuh itu bukan untukku, dada bidang itu bukan sandaranku yang sesungguhnya.

Seolah mengalirkan duka, kamu enggan melepas pelukan itu. Aku merasakan bahwa kamu inginku berhenti berbicara, dan mau bersamamu kali ini, berjalan disampingmu untuk waktu ini, dan tidak ada jarak dalam hubungan ini. Kamu egois ya. Baik.

Aku menghapus airmata, dan melepas pelukanmu.  Benar, matamu sayu. Aku tau sekali kamu tidak bisa dan tidak mau menunjukkan kesedihan, atau menangis didepanku. Kamu paling anti. Tapi aku bisa merasakannya. Aku bisa tau hanya dengan melihat wajahmu.

Kamu berusaha memelukku lagi, tapi aku menolak. Kusunggingkan senyum bahagia. Sudah tau kan, kamu paling benci ketika aku menangis, dan kamu tidak pernah mau melihatnya.
Maka dengan tersenyum, aku bisa membuatmu sedikit lega.

Dengan tersenyum, aku bisa menyembunyikan lukaku.
Luka yang tak kasat mata, dan itu karena hubungan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...