Langsung ke konten utama

Aku yang akan mengantarmu

Tangan itu meraihku, dengan bersemangat kamu membawaku pada kenyataan yang belum bisa kuterima. 
Tanpa menilikku, kamu semakin mengeratkan genggaman ketika ku hendak melepasnya. 
Mengapa kamu melakukan itu?
Kamu mau aku menyaksikan semua luka yang telah kamu buat?

Setelah membawaku berjalan cukup jauh, kamu berhenti.
Tetap tanpa menilikku, kamu mulai melepas genggaman yang tadinya begitu erat. Ada ketakutan yang sangat besar, kehilanganmu nyatanya masih menjadi mimpi burukku. 

Diseberang ada seorang perempuan telah menunggumu, dengan sebuket bunga ditangannya ia tersenyum. Dan kamu tetap tak menilikku, melangkahkan kaki kearahnya. 
Yang berbeda, kamu tak meraihku lagi, genggaman yang begitu erat tadi terhapus oleh udara malam itu. 

Kamu melangkah pergi...

Seketika udara malam itu membentuk bentangan dinding tak kasat mata, menahanku untuk meraih, dan menghalangimu untuk berbalik. 

Ternyata saat-saat itu telah tiba.
Keadaan pada akhirnya memisahkan kita, setelah cukup banyak aku berusaha. 

Aku masih bisa melihatmu dibalik dinding udara, kini kamu sudah berada disamping perempuan yang menatapmu dengan penuh cinta. 
Apakah selama ini kamu tak pernah sadar, bahwa tatapanku juga memiliki hal itu bahkan lebih besar.

Aku menyadari satu hal, mengapa sepanjang perjalanan tadi kamu hanya menggenggam jemariku tanpa menilik sedikitpun.
Genggaman itu, seolah kamu yang selama ini menyembunyikanku dengan sangat rapat dari dunia. Dan tentang kamu yang tak menilikku sedikitpun, seperti kamu yang tak mau sadar dan menyadari bagaimana perasaanku, dan semua perjuanganku.

Lalu ketika kamu mulai melepas genggaman itu, dengan tetap tanpa menilikku. Dalam diammu, kamu telah memberitahuku bahwa aku telah keluar dari persembunyianmu, meskipun kamu tetap tak akan pernah peduli bagaimana dan seperti apa keadaanku.

Ketika dulu aku selalu menahanmu, sekarang aku akan mengantarmu.
Karena sampai kapanpun, tempatmu tetap bukan disampingku.

Kembalilah, dan kumohon jangan pernah berbalik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...