Tangan itu meraihku, dengan bersemangat kamu membawaku pada kenyataan yang belum bisa kuterima.
Tanpa menilikku, kamu semakin mengeratkan genggaman ketika ku hendak melepasnya.
Mengapa kamu melakukan itu?
Kamu mau aku menyaksikan semua luka yang telah kamu buat?
Setelah membawaku berjalan cukup jauh, kamu berhenti.
Tetap tanpa menilikku, kamu mulai melepas genggaman yang tadinya begitu erat. Ada ketakutan yang sangat besar, kehilanganmu nyatanya masih menjadi mimpi burukku.
Diseberang ada seorang perempuan telah menunggumu, dengan sebuket bunga ditangannya ia tersenyum. Dan kamu tetap tak menilikku, melangkahkan kaki kearahnya.
Yang berbeda, kamu tak meraihku lagi, genggaman yang begitu erat tadi terhapus oleh udara malam itu.
Kamu melangkah pergi...
Seketika udara malam itu membentuk bentangan dinding tak kasat mata, menahanku untuk meraih, dan menghalangimu untuk berbalik.
Ternyata saat-saat itu telah tiba.
Keadaan pada akhirnya memisahkan kita, setelah cukup banyak aku berusaha.
Aku masih bisa melihatmu dibalik dinding udara, kini kamu sudah berada disamping perempuan yang menatapmu dengan penuh cinta.
Apakah selama ini kamu tak pernah sadar, bahwa tatapanku juga memiliki hal itu bahkan lebih besar.
Aku menyadari satu hal, mengapa sepanjang perjalanan tadi kamu hanya menggenggam jemariku tanpa menilik sedikitpun.
Genggaman itu, seolah kamu yang selama ini menyembunyikanku dengan sangat rapat dari dunia. Dan tentang kamu yang tak menilikku sedikitpun, seperti kamu yang tak mau sadar dan menyadari bagaimana perasaanku, dan semua perjuanganku.
Lalu ketika kamu mulai melepas genggaman itu, dengan tetap tanpa menilikku. Dalam diammu, kamu telah memberitahuku bahwa aku telah keluar dari persembunyianmu, meskipun kamu tetap tak akan pernah peduli bagaimana dan seperti apa keadaanku.
Ketika dulu aku selalu menahanmu, sekarang aku akan mengantarmu.
Karena sampai kapanpun, tempatmu tetap bukan disampingku.
Kembalilah, dan kumohon jangan pernah berbalik.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu