Langsung ke konten utama

Untuk hubungan yang tak pernah punya nama

Dada yang selama ini menjadi tempat ternyaman, kembali mendekapku. Membawa sosok yang selama ini membuatku percaya, bahwa perjuanganku untuk bersatu denganmu akan segera terwujud.

Namun, seiring berjalannya waktu...

Aku mulai memahami bahwa; langkah juangku selama ini tak pernah beriringan denganmu. Dan hubungan yang ada diantara kita, tak pernah kamu beri nama.

Kucoba merubah sajak dalam doaku, yang semula mengharapkanmu, menjadi ikhlas melepasmu. 
Apa yang bisa aku lakukan selain itu? Sejak aku menyadari bahwa; aku bukan harapan di masa depanmu.

Biarkan aku menangis dalam dekapanmu, untuk yang terakhir kali. Aku akan menghapus airmataku sendiri, dan menunjukkan senyum ikhlas tepat didepanmu.

Aku mengikhlaskanmu, sungguh aku sedang berusaha...

Untuk hubungan yang selama ini tak pernah punya nama, akan aku rubah menjadi pertemanan. Meski butuh waktu yang aku tidak tau berapa lamanya.

Jangan pernah menatapku dengan mata yang seolah sangat tau apa yang sedang aku rasakan, dan jangan pernah berkata bahwa kamu juga merasakannya. Karena itu semua salah.

Kamu tak pernah merasakan sejauh apa yang aku rasa. Dan kamu tak pernah memahami arti perjuanganku selama ini. Yang kamu tau hanya; aku sedang menangis. Hanya itu.

Jarak kita sangat jauh, dan aku baru menyadarinya malam itu. 

Berbahagialah...
Setidaknya aku masih bisa melihatmu tersenyum, meski disamping orang lain.

Dan aku harap, pandangan kita tak saling bertemu. Karena itu adalah kelemahan kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...