Dada yang selama ini menjadi tempat ternyaman, kembali mendekapku. Membawa sosok yang selama ini membuatku percaya, bahwa perjuanganku untuk bersatu denganmu akan segera terwujud.
Namun, seiring berjalannya waktu...
Aku mulai memahami bahwa; langkah juangku selama ini tak pernah beriringan denganmu. Dan hubungan yang ada diantara kita, tak pernah kamu beri nama.
Kucoba merubah sajak dalam doaku, yang semula mengharapkanmu, menjadi ikhlas melepasmu.
Apa yang bisa aku lakukan selain itu? Sejak aku menyadari bahwa; aku bukan harapan di masa depanmu.
Biarkan aku menangis dalam dekapanmu, untuk yang terakhir kali. Aku akan menghapus airmataku sendiri, dan menunjukkan senyum ikhlas tepat didepanmu.
Aku mengikhlaskanmu, sungguh aku sedang berusaha...
Untuk hubungan yang selama ini tak pernah punya nama, akan aku rubah menjadi pertemanan. Meski butuh waktu yang aku tidak tau berapa lamanya.
Jangan pernah menatapku dengan mata yang seolah sangat tau apa yang sedang aku rasakan, dan jangan pernah berkata bahwa kamu juga merasakannya. Karena itu semua salah.
Kamu tak pernah merasakan sejauh apa yang aku rasa. Dan kamu tak pernah memahami arti perjuanganku selama ini. Yang kamu tau hanya; aku sedang menangis. Hanya itu.
Jarak kita sangat jauh, dan aku baru menyadarinya malam itu.
Berbahagialah...
Setidaknya aku masih bisa melihatmu tersenyum, meski disamping orang lain.
Dan aku harap, pandangan kita tak saling bertemu. Karena itu adalah kelemahan kita.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu