Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Apakah yang suak tak dapat lagi berjaya?

Apakah seseorang yang dimasa lalunya telah gagal, tidak pantas memberi pendapat hidup untuk orang lain? Apakah yang patah, tak bisa menumbuhkan tunas ditubuhnya? Apakah seseorang yang telah kalah telak, dihempas oleh kehidupan untuk tak lagi bisa menang? Apakah yang suak, tak lagi dapat berjaya? Sebagai seseorang yang gagal, ia terus merangkak untuk maju, meski kaki telah dipatahkan oleh mulut-mulut orang. Merintas jalanan menuju bukit yang penuh kerikil, untuk menghindar dari tatapan sanksi orang. Menyusur bentang lautan, halau daratan dari kata-kata orang. Ia hanya sebuah luka, yang berharap cuka mengering. Ia hanya buih embun, yang berharap menjadi deretan hujan. Ia seseorang yang gagal dimasa lalu, masih punya harapan pantas dimasa depan.  Masih bisakah? Ini pertanyaan untuk orang-orang yang bermulut seperti hunus pedang, berpandangan dangkal, berpikiran curam. Menarik kesimpulan atas dasar "dulu", kemudian menuangnya menjadi "aduh". "Aduh, dia dulu seseora...

Menjadi pelukis algoritma didinding yang rapuh

Ketika kamu datang ke tempat dimana perempuan yang kamu sembunyikan berada, maka kamu hanya menemukan tempat kosong dengan dinding yang penuh goresan. Goresan itulah, caranya menghitung hari dimana kamu memilih pergi tanpa berpamitan. Perempuan yang tak tau bagaimana caranya mencari kabarmu, karena dinding terbentang menghadangnya tanpa belas kasihan.  Seandainya, di detik akhir kamu berjalan, masih menyempatkan diri untuk menilik, mungkin semuanya tak akan serumit ini. Kamu bisa berdansa mesra disana, dikelilingi oleh orang-orang yang memuja keserasian kalian.  Tapi bagaimana dengan perempuan yang masih dalam persembunyian?  Di detik akhirmu menuju kebahagiaan, ia masih menunggu sebuah uluran tangan, yang diharapkannya adalah kamu.  Ia masih merayu waktu untuk menemaninya sebentar, sampai seseorang yang diharapkannya datang. Namun, sekali lagi. Harapannya hanyalah buih di saat hujan turun dengan deras. Tak pernah berarti, selagi dihatimu hanya menyerukan pengkhianat...

Bukan perkara yang bisa dimafhumi

Tak perlu bertanya tentang perasaan Karena air adalah jalan Tentang hati Bukan perkara yang bisa dimafhumi Terkadang benar belum tentu pasti Hanya perlu mengalir untuk menepi Jangan takut, aku tak pergi Hanya perlu percaya dan pahami Yang berjanji pun belum tentu ditepati Jadi, biar akhir ini kan menepi Bab mencintai, Apapun lezat meski itu tai Dan takut kehilangan adalah hak murni Tak mengapa itu alami Setidaknya tak melebihi

Mengikatmu dengan kekuatan

Aku pernah kehilanganmu, dan kamu kembali. Namun aku baru sadar, bahwa sebab kehilanganmu adalah alasanku menjadi orang yang paling tidak bisa mempercayaimu, meski telah bersumpah. Maaf, kekasihku.  Tapi apa yang terjadi dimasa lalu, ternyata menyisakan kesan dalam aku menilaimu. Dan ini salah.  Mulai dari hal ini saja, aku sudah salah. Mendasari hubungan ini atas ketidakpercayaan. Menerimamu kembali, masih menguatkanku untuk bertahan. Menata lagi yang pernah kamu retakkan. Kenapa harus lagi? Pertanyaan itu sempat menjadi benalu dalam pikiranku, seolah keputusasaan menjadi alasanku. Lelah akan menemui orang baru, mengenal, menjajaki, menerima dan mungkin saja akan terjadi hal yang sama. Bukan karena itu. Seperti pepatah yang kudengar. Ketika menerima dan memberi, gunakanlah hati dan perasaan. Aku, memutuskan untuk menerimamu dengan segala kecaman masa lalu. Kupikir, semua bisa berubah seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan janjimu. Kamu datang lagi tidak hanya dengan ta...

Tak perlu menciptakan satir

Sejak sajak menjadi sejuk Beningnya hening menjadi suara sorak sorai Kunang dulu bersembunyi dipunuk Kini ia terbang meninggalkan tungkai Dengan sebuah seringai Bulan berbisik pada mentari Merayu bahwa duka harus pergi Lelah menjadi bukti Dari bunga, tangkai juga berduri Tak ada yang selamanya berbahagia Tak ada yang selamanya berduka Porsi ditakar dengan semestinya Tak perlu khawatir, dan tak perlu menciptakan satir Tenanglah, duka bukanlah benalu Waskitalah, bahagia tetap akan berlalu Berganti secepat hilang oleh halu Tuhan menciptakan beda dari yang lalu Jadi tau, tak perlu bersedih untuk keluar dari belenggu.

Hak dan kuasamu sepenuhnya

Aku adalah apa yang kamu pikirkan dan katakan. Karakter, sifat, dan sikapku semua tergantung pandanganmu. Aku tidak bisa memaksa kamu untuk paham dan setuju, Persepsi tentangku adalah hakmu. Ekspektasi mengenaiku adalah kuasamu. Aku tidak akan menuntut kamu untuk percaya dan bersikukuh. Karena aku tetaplah apa yang ada dikalimat pertama. Meski kugambar sesempurna apa diri ini disebuah kertas, seni tetap tidak mempunyai nilai sempurna. Jika kamu terus menciptakan persepsi terhadapku sesuai dengan ekspektasimu, mungkin saja aku bisa, tapi jika tidak, bukan mundur, tapi aku akan berhenti. Memberimu jeda untuk memperbaiki segalanya, sebelum aku benar-benar lelah.  Pergi atau bertahan, tetap menjadi hak dan kuasamu sepenuhnya.  Sabtu, 17 Oktober 2020 Umi Masrifah

Toh nyatanya kamu pergi tanpa pamit meninggalkan

Ingatkah kamu ketika dua anak laki-laki dan perempuan yang berlari kearah kita berdua? Terlihat bahagia, begitupun kita. Ya, aku bisa melihat dari senyum yang tercipta dibibirmu dengan tulusnya. Kenangan itu, tak lebih hanya selingan dalam ceritamu. Tak lebih hanya bumbu dalam duniamu. Aku bersama kenangan, hilang dengan mudah bersama angin dimalam itu. Kehilanganmu harusnya menjadi hal biasa, karena kamu tidak pernah mau kurangkul. Kamu, tidak pernah mau mengakuiku. Kamu, hanya menyembunyikanku dari apa yang tidak pernah kamu dapatkan.  Dan kini, kamu benar-benar hilang tanpa mengucap selamat tinggal.  Mungkin hal itu lebih baik, daripada berbelit dan mendebatkan siapa yang akan pergi dan menang karena bertahan. Ya, pada dasarnya aku lah pemenang sekaligus menelan kekalahan. Aku menang karena membenarkan egoku dengan bertahan pada sesuatu yang kamu sebut persembunyian. Dan aku kalah karena tetap menjadi bodoh untuk menunggumu. Aku tidak pernah tau dan tidak mau tau apa yang k...

Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi

Pernah berpikir untuk beranjak, namun tiba-tiba kamu datang dan mengelak. Semuanya masih baik-baik saja, dan tidak perlu ada yang saling meninggalkan, ucapmu. Aku kembali terduduk, dan menikmati hangatnya tatapanmu dan senyuman yang kian semakin manis. Baru kemarin kamu melakukan itu, menahan dan seolah mengikatku pada kepastian. Sayangnya, hari ini kamu menghilang bersama bualan. Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi. Seharusnya waktu itu, aku terus beranjak dan pergi meninggalkanmu. Meninggalkan ketidakpastian dan keraguan yang selalu kulihat dimatamu.  Aku memang bukanlah perempuan sesempurna dalam bayanganmu, aku juga bukan yang baik-baik saja dalam masa lalu, aku pun masih menyimpan bekas luka yang akan cacat selamanya.  Aku jauh dari apa yang kamu bayangkan. Lalu kenapa aku masih berpikir kamu akan menerimaku? seolah aku sangat layak bagimu. Tolonglah, setidaknya jangan membuatku bingung dengan perasaanmu.  Jika memang aku bukan salah satu dari daftar orang yang ...