Langsung ke konten utama

Toh nyatanya kamu pergi tanpa pamit meninggalkan

Ingatkah kamu ketika dua anak laki-laki dan perempuan yang berlari kearah kita berdua? Terlihat bahagia, begitupun kita.
Ya, aku bisa melihat dari senyum yang tercipta dibibirmu dengan tulusnya.
Kenangan itu, tak lebih hanya selingan dalam ceritamu.
Tak lebih hanya bumbu dalam duniamu.
Aku bersama kenangan, hilang dengan mudah bersama angin dimalam itu.

Kehilanganmu harusnya menjadi hal biasa, karena kamu tidak pernah mau kurangkul. Kamu, tidak pernah mau mengakuiku.
Kamu, hanya menyembunyikanku dari apa yang tidak pernah kamu dapatkan. 

Dan kini, kamu benar-benar hilang tanpa mengucap selamat tinggal. 

Mungkin hal itu lebih baik, daripada berbelit dan mendebatkan siapa yang akan pergi dan menang karena bertahan.
Ya, pada dasarnya aku lah pemenang sekaligus menelan kekalahan.
Aku menang karena membenarkan egoku dengan bertahan pada sesuatu yang kamu sebut persembunyian. Dan aku kalah karena tetap menjadi bodoh untuk menunggumu.

Aku tidak pernah tau dan tidak mau tau apa yang kamu pikirkan sekarang, aku hanya sedang teringat kenangan bersamamu. Apa kamu juga mengingatnya? Hal-hal kecil yang kamu sebut bahagia, tidak kamu dapatkan bersamanya. Apakah itu ternyata hanya bualan?

Api memantik, tapi tetap saja aku tak berkutik. Aku tidak benar-benar membencimu sampai detik ini. Tidak ada alasan untuk itu, karena semua mengalir tidak bertitik.

Aku hanya menyayangkan ucapanmu kala itu, bersombong diri seolah kamu lah pemenang dari yang paling bertahan. Toh nyatanya, kamu pergi tanpa pamit untuk meninggalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...