Ingatkah kamu ketika dua anak laki-laki dan perempuan yang berlari kearah kita berdua? Terlihat bahagia, begitupun kita.
Ya, aku bisa melihat dari senyum yang tercipta dibibirmu dengan tulusnya.
Kenangan itu, tak lebih hanya selingan dalam ceritamu.
Tak lebih hanya bumbu dalam duniamu.
Aku bersama kenangan, hilang dengan mudah bersama angin dimalam itu.
Kehilanganmu harusnya menjadi hal biasa, karena kamu tidak pernah mau kurangkul. Kamu, tidak pernah mau mengakuiku.
Kamu, hanya menyembunyikanku dari apa yang tidak pernah kamu dapatkan.
Dan kini, kamu benar-benar hilang tanpa mengucap selamat tinggal.
Mungkin hal itu lebih baik, daripada berbelit dan mendebatkan siapa yang akan pergi dan menang karena bertahan.
Ya, pada dasarnya aku lah pemenang sekaligus menelan kekalahan.
Aku menang karena membenarkan egoku dengan bertahan pada sesuatu yang kamu sebut persembunyian. Dan aku kalah karena tetap menjadi bodoh untuk menunggumu.
Aku tidak pernah tau dan tidak mau tau apa yang kamu pikirkan sekarang, aku hanya sedang teringat kenangan bersamamu. Apa kamu juga mengingatnya? Hal-hal kecil yang kamu sebut bahagia, tidak kamu dapatkan bersamanya. Apakah itu ternyata hanya bualan?
Api memantik, tapi tetap saja aku tak berkutik. Aku tidak benar-benar membencimu sampai detik ini. Tidak ada alasan untuk itu, karena semua mengalir tidak bertitik.
Aku hanya menyayangkan ucapanmu kala itu, bersombong diri seolah kamu lah pemenang dari yang paling bertahan. Toh nyatanya, kamu pergi tanpa pamit untuk meninggalkan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu