Langsung ke konten utama

Mengikatmu dengan kekuatan

Aku pernah kehilanganmu, dan kamu kembali.
Namun aku baru sadar, bahwa sebab kehilanganmu adalah alasanku menjadi orang yang paling tidak bisa mempercayaimu, meski telah bersumpah.
Maaf, kekasihku. 
Tapi apa yang terjadi dimasa lalu, ternyata menyisakan kesan dalam aku menilaimu.
Dan ini salah. 
Mulai dari hal ini saja, aku sudah salah.
Mendasari hubungan ini atas ketidakpercayaan.

Menerimamu kembali, masih menguatkanku untuk bertahan. Menata lagi yang pernah kamu retakkan.
Kenapa harus lagi?
Pertanyaan itu sempat menjadi benalu dalam pikiranku, seolah keputusasaan menjadi alasanku.
Lelah akan menemui orang baru, mengenal, menjajaki, menerima dan mungkin saja akan terjadi hal yang sama.
Bukan karena itu.

Seperti pepatah yang kudengar. Ketika menerima dan memberi, gunakanlah hati dan perasaan.
Aku, memutuskan untuk menerimamu dengan segala kecaman masa lalu. Kupikir, semua bisa berubah seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan janjimu.
Kamu datang lagi tidak hanya dengan tangan kosong, dan menawariku cinta seperti pertama kali. Tapi kamu datang dengan keseriusan, tangan itu membawa janji yang menuntunnya menuju kedua orang tuaku. Seseorang yang kukenal selama ini selengekan, kini dia memintaku dengan tegas dan konstan.
Aku menerimamu kembali, mengulang hal-hal yang sudah pernah kita lalui. Terdengar akan mudah bukan?

Namun aku salah, hati dan perasaanku tidak tau bahwa ada satu hal yang tertancap disana, yaitu; pengkhianatan.
Menampik segala kemungkinan, mengikatmu dengan kekuatan, menahanmu dalam pelukan. Ternyata belum benar-benar membuatku percaya dan masih takut kehilangan.
Sekejam itu aku padamu ya, sampai aku pun tidak menyadarinya bahwa kamu banyak terluka. 
Kamu terus tersenyum, meski hatiku masih tidak karuan.

Apakah aku masih mencintaimu?
Saat rasa tidak percayaku padamu jauh lebih besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...