Aku pernah kehilanganmu, dan kamu kembali.
Namun aku baru sadar, bahwa sebab kehilanganmu adalah alasanku menjadi orang yang paling tidak bisa mempercayaimu, meski telah bersumpah.
Maaf, kekasihku.
Tapi apa yang terjadi dimasa lalu, ternyata menyisakan kesan dalam aku menilaimu.
Dan ini salah.
Mulai dari hal ini saja, aku sudah salah.
Mendasari hubungan ini atas ketidakpercayaan.
Menerimamu kembali, masih menguatkanku untuk bertahan. Menata lagi yang pernah kamu retakkan.
Kenapa harus lagi?
Pertanyaan itu sempat menjadi benalu dalam pikiranku, seolah keputusasaan menjadi alasanku.
Lelah akan menemui orang baru, mengenal, menjajaki, menerima dan mungkin saja akan terjadi hal yang sama.
Bukan karena itu.
Seperti pepatah yang kudengar. Ketika menerima dan memberi, gunakanlah hati dan perasaan.
Aku, memutuskan untuk menerimamu dengan segala kecaman masa lalu. Kupikir, semua bisa berubah seiring berjalannya waktu, begitu juga dengan janjimu.
Kamu datang lagi tidak hanya dengan tangan kosong, dan menawariku cinta seperti pertama kali. Tapi kamu datang dengan keseriusan, tangan itu membawa janji yang menuntunnya menuju kedua orang tuaku. Seseorang yang kukenal selama ini selengekan, kini dia memintaku dengan tegas dan konstan.
Aku menerimamu kembali, mengulang hal-hal yang sudah pernah kita lalui. Terdengar akan mudah bukan?
Namun aku salah, hati dan perasaanku tidak tau bahwa ada satu hal yang tertancap disana, yaitu; pengkhianatan.
Menampik segala kemungkinan, mengikatmu dengan kekuatan, menahanmu dalam pelukan. Ternyata belum benar-benar membuatku percaya dan masih takut kehilangan.
Sekejam itu aku padamu ya, sampai aku pun tidak menyadarinya bahwa kamu banyak terluka.
Kamu terus tersenyum, meski hatiku masih tidak karuan.
Apakah aku masih mencintaimu?
Saat rasa tidak percayaku padamu jauh lebih besar.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu