Apakah seseorang yang dimasa lalunya telah gagal, tidak pantas memberi pendapat hidup untuk orang lain?
Apakah yang patah, tak bisa menumbuhkan tunas ditubuhnya?
Apakah seseorang yang telah kalah telak, dihempas oleh kehidupan untuk tak lagi bisa menang?
Apakah yang suak, tak lagi dapat berjaya?
Sebagai seseorang yang gagal, ia terus merangkak untuk maju, meski kaki telah dipatahkan oleh mulut-mulut orang. Merintas jalanan menuju bukit yang penuh kerikil, untuk menghindar dari tatapan sanksi orang. Menyusur bentang lautan, halau daratan dari kata-kata orang.
Ia hanya sebuah luka, yang berharap cuka mengering.
Ia hanya buih embun, yang berharap menjadi deretan hujan.
Ia seseorang yang gagal dimasa lalu, masih punya harapan pantas dimasa depan.
Masih bisakah? Ini pertanyaan untuk orang-orang yang bermulut seperti hunus pedang, berpandangan dangkal, berpikiran curam. Menarik kesimpulan atas dasar "dulu", kemudian menuangnya menjadi "aduh".
"Aduh, dia dulu seseorang yang tidak baik."
"Aduh, dia dulu tidak bisa menghargai orang."
"Aduh, dia dulu cuma bisa nyakitin."
...
Dan aduh aduh yang lain.
Hingga lupa bahwa aduh hanyalah dulu.
Mulut-mulut tajam yang berakhir menghancurkan pekerti, mematahkan intensi, dan meretakkan sebuah afeksi.
Yang berpengaruh kini bukanlah masa lalu, tapi mulut.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu