Ketika kamu datang ke tempat dimana perempuan yang kamu sembunyikan berada, maka kamu hanya menemukan tempat kosong dengan dinding yang penuh goresan.
Goresan itulah, caranya menghitung hari dimana kamu memilih pergi tanpa berpamitan.
Perempuan yang tak tau bagaimana caranya mencari kabarmu, karena dinding terbentang menghadangnya tanpa belas kasihan.
Seandainya, di detik akhir kamu berjalan, masih menyempatkan diri untuk menilik, mungkin semuanya tak akan serumit ini.
Kamu bisa berdansa mesra disana, dikelilingi oleh orang-orang yang memuja keserasian kalian.
Tapi bagaimana dengan perempuan yang masih dalam persembunyian?
Di detik akhirmu menuju kebahagiaan, ia masih menunggu sebuah uluran tangan, yang diharapkannya adalah kamu.
Ia masih merayu waktu untuk menemaninya sebentar, sampai seseorang yang diharapkannya datang.
Namun, sekali lagi. Harapannya hanyalah buih di saat hujan turun dengan deras.
Tak pernah berarti, selagi dihatimu hanya menyerukan pengkhianatan.
Oh tunggu, ini bukan pengkhianatan. Ini hanya kebohongan yang dengan suka rela diterima olehnya.
Perempuan itu menjadi bodoh agar tetap berada dipersembunyian. Terkadang, ia merasa lelah dan ingin pergi. Tapi waktu membuatnya jauh lebih lelah untuk pergi dan menyembuhkan diri.
Sampai pada akhirnya, ia terpaksa melakukannya. Karena kamu menjadi culas dan lepas tangan.
Kamu membiarkannya menjadi pelukis algoritma didinding yang rapuh, menjadi dengungan alarm ditengah malam. Segusar itu ia hidup untuk menunggumu dipersembunyian.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu