Langsung ke konten utama

Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi

Pernah berpikir untuk beranjak, namun tiba-tiba kamu datang dan mengelak. Semuanya masih baik-baik saja, dan tidak perlu ada yang saling meninggalkan, ucapmu.
Aku kembali terduduk, dan menikmati hangatnya tatapanmu dan senyuman yang kian semakin manis.

Baru kemarin kamu melakukan itu, menahan dan seolah mengikatku pada kepastian. Sayangnya, hari ini kamu menghilang bersama bualan.
Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi.

Seharusnya waktu itu, aku terus beranjak dan pergi meninggalkanmu. Meninggalkan ketidakpastian dan keraguan yang selalu kulihat dimatamu. 

Aku memang bukanlah perempuan sesempurna dalam bayanganmu, aku juga bukan yang baik-baik saja dalam masa lalu, aku pun masih menyimpan bekas luka yang akan cacat selamanya. 
Aku jauh dari apa yang kamu bayangkan.

Lalu kenapa aku masih berpikir kamu akan menerimaku? seolah aku sangat layak bagimu.

Tolonglah, setidaknya jangan membuatku bingung dengan perasaanmu. 
Jika memang aku bukan salah satu dari daftar orang yang kamu prioritaskan, maka pergilah. Setidaknya aku tau, dimana posisiku saat ini.
Dan jika memang kamu berniat membawaku bersama langkahmu, yakinkan aku. Dengan tidak memberiku harapan palsu.

Tuan, kamu tidak perlu membaca tulisan ini. Kamu hanya perlu untuk memantapkan hati. Sebelum aku semakin jauh mengikutimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...