Pernah berpikir untuk beranjak, namun tiba-tiba kamu datang dan mengelak. Semuanya masih baik-baik saja, dan tidak perlu ada yang saling meninggalkan, ucapmu.
Aku kembali terduduk, dan menikmati hangatnya tatapanmu dan senyuman yang kian semakin manis.
Baru kemarin kamu melakukan itu, menahan dan seolah mengikatku pada kepastian. Sayangnya, hari ini kamu menghilang bersama bualan.
Berulang kali, tapi aku masih jatuh lagi.
Seharusnya waktu itu, aku terus beranjak dan pergi meninggalkanmu. Meninggalkan ketidakpastian dan keraguan yang selalu kulihat dimatamu.
Aku memang bukanlah perempuan sesempurna dalam bayanganmu, aku juga bukan yang baik-baik saja dalam masa lalu, aku pun masih menyimpan bekas luka yang akan cacat selamanya.
Aku jauh dari apa yang kamu bayangkan.
Lalu kenapa aku masih berpikir kamu akan menerimaku? seolah aku sangat layak bagimu.
Tolonglah, setidaknya jangan membuatku bingung dengan perasaanmu.
Jika memang aku bukan salah satu dari daftar orang yang kamu prioritaskan, maka pergilah. Setidaknya aku tau, dimana posisiku saat ini.
Dan jika memang kamu berniat membawaku bersama langkahmu, yakinkan aku. Dengan tidak memberiku harapan palsu.
Tuan, kamu tidak perlu membaca tulisan ini. Kamu hanya perlu untuk memantapkan hati. Sebelum aku semakin jauh mengikutimu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu