Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Temu yang membuatku bahagia sekaligus hancur kembali

Temu adalah obat, sekaligus juga pisau yang siap menyayat. Dari kejauhan, aku melihatnya mengembangkan senyum. Saling merasa bahagia dan lega, setelah waktu dan keadaan menjauhkan kita. Namun aku melupakan sesuatu, bahwa selama itu aku sedang berusaha melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu bersama duniamu hidup bahagia. Dan aku, menjalani hari-hariku seperti biasanya; hidup tanpa kehadiranmu.  Temu yang meruntuhkan seluruh pertahananku lagi.  Aku yang akhirnya kembali lagi dititik awal; untuk melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu kembali lagi menuju duniamu yang sesungguhnya. Persinggahan yang semakin mengerucut. Dan harusnya aku tidak lagi ada disana.  Temu yang kali ini tak pernah kuduga akan berakhir secepat itu. Begitu cepat, namun berhasil meraup semua harapan. Harapan yang sudah kukubur sejak lama, muncul kembali ke permukaan. Tapi lihatlah, tidak ada yang bisa didapatkan hanya dengan berharap, dan aku- tidak dapat melakukan apapun. Karna kita tetap tidak per...

Enggan menuang perih

Pergilah, sebelum kamu menghadirkan rasa, dan sebelum kamu menancapkan luka. Berjalan melewati kerikil tajam, duri melingkar, petir menyambar dapat kulakukan untuk meraih tangan yang ingin bersamaku. Tapi jika kamu tak sungguh, maka pergilah. Sebelum semuanya sia-sia. Bertahanlah, jika kamu enggan melukai, dan enggan menuang perih. Jangan pernah menuangkan cuka, garam, dan perasan jeruk nipis pada lukaku yang belum mengering. Jika kamu datang untuk menyembuhkan, maka bertahanlah. Yakinkan aku sekali lagi, bahwa kamu bukanlah luka seperti yang kutakutkan.

Tak perlu lagi menunggu puluhan abad

Menunggumu datang butuh berpuluh abad sampai kamu ikhlas, percuma jika setiap hari kamu datang hanya dengan senyum culas. Menggenggam tanganmu rasanya dingin dan kaku, seperti mayat hidup. Yah, aku bersama dengan seseorang yang menyebut dirinya manusia, sedangkan sebenarnya hanya tulang dibalut luka. Kamu masih meratapi duka masa lalu dengan menggenggam tanganku. Apa yang sedang kamu cari? Apakah ini semua hanya drama belaka, yang kamu bentuk sedemikian sempurna? Seolah nampak kamu sedang melangkah kearahku, padahal sebenarnya kamu melangkah untuk melewatkanku. Begitu rupanya. Tidak apa-apa, mari kugenggam tangan dinginmu. Anggap saja aku sedang berada dalam drama bersamamu, yang nantinya akan mendapat tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang terkagum-kagum melihat kita. Tapi akan aku pastikan juga, kamu akan lupa bahwa seseorang yang kamu sebut teman peran, akan berubah menjadi sandaran.  Tak perlu lagi aku menunggu puluhan abad untuk menggenggam tanganmu dengan hangat, tapi per...

Datang tanpa sebab

Aku yang menutup rapat luka, mengiris juang, dan mematahkan langkah. Membuka deretan, untuk sebuah hal kecil; yaitu asa. Memantik api bukan lagi harapan, hanya ingin mengarungi lautan untuk menuju palung terdalam. Kamu datang tanpa sebab, saat aku masih berusaha bangun dari terjerembab. Kamu mengulurkan tangan, seolah permukaan halus itu adalah bantuan. Kamu mengeratkan rangkulan, seolah dari dadamu lah aku mendapatkan kehangatan. Siapa kamu? Berasal darimana? Dan kenapa? Setelah kedatangan, uluran tangan, rangkulan, kamu menutupnya dengan kepergian. Meletakkan diriku lagi dikalimat pertama. Dan kini semakin jauh lebih berat.

Sudah berjuta kali aku sembuh

Ada ketakutan, yang membuatku enggan membuka lebar sayap untukmu terbang bersamaku. Sayap yang sering kali kamu lukai, ketika telah terbang kelapis awan. Yang membuatku kembali jatuh, untuk kesekian kali. Ketika aku sedang mengobati luka pada sayapku, aku mengajak bicara pada sisi diriku yang lain, memberi cermin dan membuka mataku; bahwa sudah berjuta kali aku sembuh oleh sayap yang terluka karenanya, dan berjuta kali juga aku mengulang luka yang sama dengan membawamu terbang bersama.  Seolah bukan hanya keledai yang jatuh dilubang sama berulang kali, tapi aku juga. Meskipun aku takut untuk terbang lagi denganmu, tapi aku masih mengepakkan sayap dan mulai membawamu kelangit, dimana itu tempat yang paling membuatmu bahagia. Kamu bersorak sorai, dan semakin mengeratkan pelukan. Mengecup keningku dengan kehangatan. Lalu berbisik, bahwa kita sedang bersama, dan berbahagia. Aku senang mendengarnya, tapi lagi-lagi aku ketakutan. Karena pelukan, kecupan dan bisikan itu akan segera hilang...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.