Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Hari ke-2 : Berjalan untuk mengerti

Sebelumnya, 30 hari ini akan ada banyak cerita yang tertuang, yang mungkin saja terjadi juga pada orang lain. Perihal merelakan tanpa sempat memiliki, Ada sebagian bab yang tidak perlu dibahas, selagi itu hanya menjadi sia-sia. Sama seperti, sesuatu yang pergi sebelum dicintai.  Tidak perlu menanam, menunggu tumbuh, dan merawat sebuah perasaan, jika akhirnya pun harus ditebas. Jadi sebelum ia ingin melangkah ke dalam "rumah", ada peringatan yang harus ia ketahui. Ada hal-hal yang perlu ia mengerti, dan semuanya kembali menjadi bagian dari keputusannya. Tidak semua orang dapat mengerti, dan menerima. Dan sudah semestinya kita menjadi orang yang legowo.

Hari ke-1 : Jarak yang kusebut harapan.

Jarak yang kusebut harapan itu, menjadi bentangan jika dihitung. Ada banyak harapan, dan salah satunya bisa bersamamu, meski mustahil. Ya, bersamamu ternyata masih menjadi topik dalam rapalan doa sepertiga malamku. Meski kita terlihat begitu dekat, nyatanya banyak perbedaan yang seketika langsung memisahkan. Menjadi hamparan duka dari harapan. Tapi tak mengapa, aku masih bersikeras mengatakan ketidakmungkinan itu akan berubah. Aku percaya hal-hal yang mematahkan, juga bisa menumbuhkan. Aku percaya bahwa segalanya tidak ada yang mustahil. Jadi, aku masih bersikeras, meski aku tau bukan hal mudah untuk terus menetap dalam keadaan terluka. Selamat malam, bagi siapapun yang masih berjuang untuk bersamanya. Ingatlah tidak ada yang patah, jika bukan untuk tumbuh.

Hai, 2021!

Selamat datang tahun 2021, Terlambat ya? Sudah mau ganti bulan baru ngucapin selamat tahun baru.  Seperti tahun yang sudah-sudah, aku tidak terlalu excited, toh tidak ada yang berubah, karena doa untuk menjadi lebih baik lagi juga selalu dipanjatkan tiap hari, tidak hanya di tahun baru saja. Tapi aku baru ingat, mengkaji ulang kilas balik di tahun lalu. Seperti bermain roller coaster. Ada saatnya aku berada diatas, melangit, kemudian langsung jatuh bahkan sampai ke palung laut, kemudian terangkat oleh ombak dan terombang-ambing, sampai akhirnya aku berada di tepi pantai. Suasana yang seketika membuatku nyaman dan berhenti dari permainan. Ternyata tahun lalu, benar-benar menjadi tahun paling bermakna dari sebelum-sebelumnya. Andai jika cobaan dan nikmat itu terjadi lagi, semoga aku bukan lagi orang yang mengeluh dan lupa padaMu. Semoga aku dapat melewatinya tanpa menghilangkan namaMu, tanpa lari dari sajadah tempatku bersujud. Allah begitu baik, menempatkan aku pada keluarga yang ma...

Tempat bersemayamnya cerita sendu

Luka itu menyamar jadi filantropi, kemudian mengubahnya perlahan menjadi semakin rumit. Ada bab dimana sulit membedakan mana yang dari hati, dan mana yang hanya berkelakar. Semuanya kamu bungkus dengan begitu sempurna. Berbaik karena harap diberi, mampu kamu jalankan dengan drama yang apik. Hingga lupa, pada saat itu tempatmu kembali ada diseberang jalan. Bukan disini, bukan dirumahku, bukan disampingku, bukan dihatiku.  Dan sebagai rumah yang kamu singgahi, aku masih membuka pintu, membawamu terus menjelajah hingga ke inti paling dalam, yaitu relung. Dimana tempat itu bersemayam cerita sendu yang akan sulit diurai, ketika kamu mulai memasukinya. Dan naasnya, kamu masuk kesana. Menggoreskan sedikit demi sedikit sebuah cerita, hingga menganak ruah.  Tak hanya itu, kamu juga menanam sebuah biji dengan segala macam cinta disana. Dengan cepat, kamu membentuk rumah sendiri direlung yang ada di hatiku.

Terimakasih untuk secuil bahagia, yang banyak dukanya

Kali ini, seluruh hal tentangmu menjadi sangat menyebalkan- Tapi setitik manis membuatmu sangat mengesankan. Terimakasih untuk secuil bahagia, yang banyak dukanya. Tidak ada yang baik-baik saja setelah ini, setelah kamu kembali ke rumah. Tapi, aku menjadi penyabar untuk menanti pertemuan itu lagi. Yang kutau, akan mengucurkan banyak cuka diatas luka, namun aku seperti acuh dan kebal. Kamu yang dalam sekali waktu mampu membuatku bersedih sekaligus bahagia. Yang tadinya menangis karnamu, menjadi tertawa karnamu juga. Aku sampai merasa seperti bayi yang lelap dalam tidurnya. Entah sampai kapan ini semua. Yang kutau, kamu terus berjanji, hingga dinding yang kubuat menghitung sudah roboh oleh banyaknya goresan. Seolah hal biasa bagimu mengucap janji, untuk diingkari.  Rangkullah aku sejenak malam ini, kuarkan rindu yang membuatmu terlihat sangat menyebalkan. Aku membencimu, tapi untuk melakukannya aku tidak bisa. Aku masih meraih tanganmu untuk melangkah,  Aku masih menyambut peluk...

Definisi "berdua"

Sempat mengira segala yang disemogakan olehmu adalah aku. Sempat menarik senyum mendengarmu berkhayal indahnya hidup berdua ditengah desa, yang setiap pagi membuka jendela dan menghirup udara segar, dan memandang hijaunya padi dengan sebulir air, bekas hujan semalam. Yang tidak kusadar adalah kata "berdua", yang memiliki arti berbeda bagiku dan bagimu. Setelah semuanya berlalu, wajar aku menyebut kata "berdua" adalah aku dan kamu. Tapi, bisa saja "berdua" menurutmu bukanlah aku dan kamu, melainkan kamu dengannya. Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah, telah mengartikan semuanya berkesan, padahal sebenarnya hal biasa bagimu. Tak mengapa kamu pergi dan datang, asal beri pelakat bahwa yang kamu lakukan hanyalah hal biasa, bukan istimewa seperti yang ku kira.

Jika kamu datang sebagai api

Datanglah untuk sebuah hal pasti, jangan hanya untuk menepi lalu pergi lagi. Terkadang ada takut untuk mengulang sesuatu yang pernah hilang.  Menerima dengan segala kemungkinan yang dulu terjadi lagi? Akh rasanya melelahkan bukan? Sepertinya perlu ada waktu tersendiri untuk healing, memperbaiki semuanya sendiri, sampai benar-benar tidak ada setitik celah luka, dan kamu tidak bisa mencungkilnya lagi. Dan jika bukan aku, berjanjilah; untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Persinggahan bukanlah sebuah pilihan. Karena semuanya tercipta dalam bayang semu. Menggenggam namun tak sepenuhnya memiliki. Menyakitkan bukan? Iyaa, jadi berhentilah. Dan datang jika niatmu sudah benar.  Tidak ada yang mau menjadi es, jika kamu datang sebagai api.