Luka itu menyamar jadi filantropi, kemudian mengubahnya perlahan menjadi semakin rumit.
Ada bab dimana sulit membedakan mana yang dari hati, dan mana yang hanya berkelakar. Semuanya kamu bungkus dengan begitu sempurna.
Berbaik karena harap diberi, mampu kamu jalankan dengan drama yang apik. Hingga lupa, pada saat itu tempatmu kembali ada diseberang jalan. Bukan disini, bukan dirumahku, bukan disampingku, bukan dihatiku.
Dan sebagai rumah yang kamu singgahi, aku masih membuka pintu, membawamu terus menjelajah hingga ke inti paling dalam, yaitu relung. Dimana tempat itu bersemayam cerita sendu yang akan sulit diurai, ketika kamu mulai memasukinya.
Dan naasnya, kamu masuk kesana.
Menggoreskan sedikit demi sedikit sebuah cerita, hingga menganak ruah.
Tak hanya itu, kamu juga menanam sebuah biji dengan segala macam cinta disana.
Dengan cepat, kamu membentuk rumah sendiri direlung yang ada di hatiku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu