Langsung ke konten utama

Hai, 2021!

Selamat datang tahun 2021,
Terlambat ya? Sudah mau ganti bulan baru ngucapin selamat tahun baru. 
Seperti tahun yang sudah-sudah, aku tidak terlalu excited, toh tidak ada yang berubah, karena doa untuk menjadi lebih baik lagi juga selalu dipanjatkan tiap hari, tidak hanya di tahun baru saja.
Tapi aku baru ingat, mengkaji ulang kilas balik di tahun lalu. Seperti bermain roller coaster. Ada saatnya aku berada diatas, melangit, kemudian langsung jatuh bahkan sampai ke palung laut, kemudian terangkat oleh ombak dan terombang-ambing, sampai akhirnya aku berada di tepi pantai. Suasana yang seketika membuatku nyaman dan berhenti dari permainan.
Ternyata tahun lalu, benar-benar menjadi tahun paling bermakna dari sebelum-sebelumnya. Andai jika cobaan dan nikmat itu terjadi lagi, semoga aku bukan lagi orang yang mengeluh dan lupa padaMu. Semoga aku dapat melewatinya tanpa menghilangkan namaMu, tanpa lari dari sajadah tempatku bersujud.
Allah begitu baik, menempatkan aku pada keluarga yang masih terus merangkulku, menuntunku untuk kembali meski tak utuh, melindungiku dari mata dan mulut buas para pengkritik ulung. Maafkan aku, yang terus menyusahkan kalian.
Tidak ada tempat untuk kembali, selain rumah. 
Tidak ada tempat ternyaman, selain keluarga.
Aku menyadarinya, dan semoga siapapun yang membaca tulisan ini juga sama. 

Setiap hari, manusia kembali sempurna ketika ia mengambil wudhu dan bersujud mohon ampunan. Semoga hati yang pernah patah dan trauma kembali membaik, seiring Tuhan yang terus menuntunnya.

Selamat tinggal tahun-tahun yang banyak sekali menitipkan pelajaran hidup, keadaanku sudah cukup baik untuk melangkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...