Langsung ke konten utama

Kutipan kata di cerita "Persimpangan Jalan" PART 1

 Merelakan sesuatu memang bukanlah hal yang mudah, bahkan Rasulullah saja pernah jatuh dan patah hati sekaligus pada putri keempat pamannya, Abu Tholib yaitu Umm Hani’. Rasulullah begitu yakin bahwa cintanya tidak main-main dan begitu besar, namun takdir menuliskan hal yang berbeda, Umm Hani’ telah bersanding dengan Hubayroh; pria yang ketika itu terlihat lebih baik dimata keluarga pamannya.

Dengan usia yang sudah seperempat abad, tidak dapat dipungkiri bahwa jatuh dan patah hati telah berkali-kali mampir, namun selayaknya orang yang ingin hidup bahagia, alur itu harus dilalui untuk menemukan yang benar-benar mendukung dalam hal “saling”.

Kali ini, mungkin memang bagiannya untuk patah hati lagi. Namun, tidak menutup kemungkinan akan terbuka cinta baru, meski tidak semudah yang dikatakan. Akan ada bagian-bagian dari patah hati yang masih menyelinap, menghalangi bagian baru untuk memulai. Yah, serumit itu untuk mencari “saling”.

Kenapa lama menulis di blog ini? 

Sebenarnya aku sedang fokus di platform menulis Dreame. Dan project yang sedang ku kerjalakan yaitu novel "Persimpangan Jalan". Semoga novelnya dapat acc editor dan pusat, lalu bisa segera dipublikasikan yaaa. 

Kalau kangen aku, sementara bisa baca tulisanku yang lama-lama yaaa hehe. aku mau hiatus dulu.

Tapiiii, kalau ada isi novel persimpangan jalan yang pengen aku share di blog ini, pasti aku share, jadi aku kasih part nya, entah mungkin bisa jadi puanjaaang, buanyaaaak, biar penasaran juga sama ceritanya dan mampir ke Dreame deh haha.

Okay, baiklah. Sampai sini dulu ya, temaaaan. Aku akan kembali lagi, entah kapan.

Tertanda,


Umi Masrifah

Gresik, 13 April 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...