Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Rasa ini sangat dalam, tapi kuhanya bisa diam

Dari caramu memandangnya, ku tau itu rasa. Dan aku ingin memilikinya, aku mengharapkannya, aku menginginkannya. Tapi ku tak bisa berbuat lebih, selain memperhatikanmu dari kejauhan, ikut tersenyum ketika lengkungan indah muncul dibibirmu. Bukan aku disana, yang membuatmu tersenyum simpul dan begitu manis. Bukan aku disana, yang menyuarakan lelucon hingga terdengar gelak tawamu. Bukan aku disana, yang melihat jelas mata teduhmu. Bukan aku. Aku hanya berdiam diri. Tanpa pernah ingin maju dan menghampiri. Aku terlalu takut, ketika ku menyuarakan perasaanku, kamu menjauh dan tak menghiraukan. Rasa ini sangat dalam, tapi kuhanya bisa diam. Bisaku hanya menyebutmu dalam sepertiga malam.

Dari laki-laki yang selalu mencintaimu dalam persembunyian

baca sebelumnya :  Dari laki-laki yang menyembunyikanmu Aku menyecap minuman yang sudah kamu pesankan sebelum aku datang, tanpa bertanya kamu sudah hapal. Aku menatapmu lekat, ternyata kita sudah saling mengenal sejauh ini, dan aku semakin sadar bahwa aku ingin memilikimu lebih dari ini. Tapi apa yang aku harapkan tidak bisa begitu saja aku lakukan, ada seseorang yang masih menungguku pulang, dan dia tidak bisa aku lepaskan begitu saja. Aku terlihat bodoh dan egois sekarang, selalu memintamu datang ketika nanti aku sendirilah yang pulang. Aku selalu mengekangmu dalam persembunyian ini, yang tak pernah kamu keluhkan. Bagaimana kah perempuanku ini? Mengapa kamu tak memprotes sedikitpun tentang kita yang sekarang, mengapa kamu hanya mengikuti alur yang akan semakin menyakitimu. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku belum bisa mengeluarkanmu dari persembunyian ini. Kamu kembali bertanya bagaimana hubunganku dengannya, apakah baik-baik sa...

Dari perempuan dalam persembunyianmu, yang ingin dikenal khalayak

baca sebelumnya :  Dari perempuan dalam persembunyianmu Mataku mengedar, menyaksikan betapa ramainya tempat ini. Sudah menjadi rutinitasku, tentunya denganmu di cafe ini, sekedar saling bertukar pikiran dan melepas rindu yang setiap hari semakin meracuni dan tidak tau diri. Senyumku mengembang tiap kali langkahmu hadir untuk menguarkan rindu yang sedari tadi membuatku gelisah. Tempat ini seperti saksi bagaimana aku yang masih malu dan pendiam, sedangkan kamu yang berusaha mengungkapkan perasaan. Tempat ini pula yang memberiku kenyataan bahwa kamu telah dimiliki oleh orang lain, dan bodohnya aku mengapa tidak berhenti sejak saat itu. Aku memilih menguarkan rindu daripada menyuruhmu pulang karena dia telah menunggu. Di tempat ini juga kamu mengerti bagaimana sesungguhnya aku, yang akan takut kehilangan ketika sudah nyaman. Dan seperti kamu sengaja, kamu melakukan itu padaku. Kamu membuatku menjatuhkan hati tanpa tau tempat. Sulit dibayangkan bagaimana aku bisa seperti ini, mengab...

Dari perempuan dalam persembunyianmu

Aku menatapmu, mencari kejujuran dari mata yang selalu indah dipandang. Mengapa aku bisa sejatuh ini? Mengapa aku masih disini menemanimu? Dan dari mata itu, tidak ada satupun kebohongan yang kulihat. Itulah sebab yang membuatku bertahan hingga sekarang, menemanimu sampai kamu sendirilah yang menyuruhku untuk berhenti. Misiku saat ini hanya ingin laki-laki yang kucintai tersenyum bahagia, dan merasakan nyaman ketika bersamaku. Bukan hati bermaksud memintamu dari perempuan lain, yang nyatanya lebih dulu memilikimu, dan mencintaimu mungkin lebih dari yang kurasakan. Detik tak urung terus berputar, dan aku tetap disini menghiraukan dia yang akan sakit jika tau ini semua. Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa sebagai sesama perempuan, aku tak memiliki rasa kasihan? Dan mengapa kamu malah memberiku jalan untuk melakukan ini semua? Ponsel pun bergetar, itu tandanya dia sedang coba menghubungimu lagi. Kamu mengalihkan pandangan kearahku saat tau siapa yang menelponmu. Dengan endikkan alis, kamu ...

Dari laki-laki yang menyembunyikanmu

Sebagai perempuan yang kusembunyikan, aku selalu memintamu untuk menetap dalam hubungan yang tak dapat didefinisikan namanya. Teman? Mana ada teman dengan perhatian melebihi seorang kekasih, mana ada teman yang mengkhawatirkan keadaan dan mencemooh ketika tak ada kabar. Aku melihatmu seperti jingga yang menyempurnakan senja. Senja yang sejatinya mempunyai banyak warna, namun jauh lebih indah jika dengan warna jingga. Kamu yang selalu memprotes ketika kumulai mengabaikan kecerewetan dan kekonyolan yang sering kamu lakukan. Bukan karena aku tak suka sikapmu, namun aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian, apalagi laki-laki lain. Sekarang mengerti maksudku kan? Ponselku berbunyi, dan itu artinya dia kembali menghubungiku. Seseorang yang tidak kamu suka, dan nyatanya dia ada dalam hidupku sebelum kamu. Seperti sebelum-sebelumnya, kamu memilih diam dan memberiku waktu untuk mengangkat telpon darinya. Entah mengapa, kamu begitu mengerti tentangku. Dan mungkin karena itu aku merasa nyama...

Seperti Hembusan Angin yang Menjarah Duka

Angin berhembus dengan kencang, awan hitam mulai menginterupsi langit yang tadinya cerah. Suara bising "Ayo pulang, keburu ujan" tiba-tiba memenuhi ruangan. Gorden yang tadinya diam, menjadi banyak tingkah. Laki-laki itu menatap keluar ruangan, tepatnya dipersimpangan tempatnya dulu menyuarakan perasaan. Mencuri pandang pada gadis bak rembulan di punggung bukit. Seperti hembusan angin yang menjarah duka kala itu, dia kembali teringat senyumnya, matanya, dan pelukannya. Sudah beberapa kali mencoba untuk lupa, tapi rasa jadi penjara, baginya. Memutuskan untuk pergi, tanpa menengok sedikitpun sebenarnya bukan pilihan. Tapi sesuatu telah membuatnya mundur. Menghancurkan mimpi besarnya yang masih setengah perjalanan diraih. Kemudian matanya mengerjap ketika seseorang yang ada dalam ingatannya sedang berhenti disana, dipersimpangan. Pandangannya tertuju pada ruangan dimana laki-laki itu berada, dan dia segera sembunyi. Meski rindunya terus berbisik untuk menyuruh datang mengh...

Seperti hujan yang Menghujamkan Diri ke Bumi

Diluar hujan turun dengan derasnya, buliran air yang menghujamkan diri pada bumi sebagai penghabisan rindu. Dedaunan layu sebab air melewatinya tanpa maaf, hingga tergugurlah sebelum masanya. Angin berhembus cukup kuat, memporak porandakan yang lemah, menjatuhkan yang rapuh. Disudut jalan, tepatnya didepan rumah yang penghuninya memilih untuk tidur dan berlindung dibawah meja. Seorang gadis berteduh, mengibaskan sebagian pakaiannya yang basah karena hujan. Matanya menyusuri jalanan, andai dia tak sendirian. Dia baru saja dari persimpangan, menantikan yang dirindukan. Berjam-jam, dan akhirnya tersadarlah bahwa semuanya sudah berakhir lama. Ketika pamit yang urung diingkari. Gadis itu berharap hanya mimpi, ucapan pamit perpisahan itu hanya bualan karena lelah. Tapi ternyata tidak, semuanya sudah berakhir waktu itu juga, tanpa terkecuali harapan dan mimpi untuk melawan waktu bersama. Jarak menghabisinya hingga berdarah-darah. Hujan seakan menguarkan airmatanya lagi, sebagai topeng d...

Terbesit Harap Bisa Melihatmu

Dimalam itu, aku menyusuri jalan dimana kita sering bertemu, sewaktu dulu. Terbesit harap bisa melihatmu malam itu. Rindu membuatku mengambil keputusan untuk menyakiti hatiku lagi. Aku memilih melihatmu, padahal kutau itu berakibat fatal pada ingatanku. Rindu yang kucoba kubur selama ini, mungkin juga terjadi padamu. Tapi apakah kamu pernah berpikir juga sepertiku? Yang rela sakit hati lagi, karena hanya ingin menemuimu. Yang rela tidak bisa tidur, karena teringat saat melihatmu. Culik rasaku, jangan biarkanku menjatuhkan rindu ini lagi. Kusakit, bila rindu tak berujung.

Padanya yang membuat kunang tak benderang

Merindumu bak renung yang berkabung, Hanya menyisakan ruang yang terkarung. Tak lebih luas dari sekelumpit jari yang menggenggam, Tak mampu bergerak meski terus coba meredam. Padanya yang membuat kunang tak benderang, Akankah ruang masih tetap terkarung. Ingin rasa mencuri jarak, Agar tak ada lagi yang berserak. Rasa ini, Hati ini, Jiwa ini, Dan cinta ini. Pada siapa, jika bukan padanya. Ruang semakin menyempit, Seperti zona yang hanya sekelumpit. Entah, pada ruang atau jarak, Bolehkah ku pinta satu saja. Agar tak berserak, Satukan kita yang berharap saling bersama.

Seperti jejakmu yang sudah hangus

Karena yang pergi, tidak benar-benar hilang. Seperti kamu, yang masih kupaksa hadir meski jarang. Mungkinkah ketakutanmu masih berlebih? Kutau kamu menerima kembaliku, Tapi kamu memberi jarak yang bisa kurasakan. Jujur, naluriku terluka. Tapi tak bisa kusalahkan. Kamu hanya tidak mau perasaan itu muncul dihatimu lagi bukan? Tapi sesungguhnya, ketakutan terbesarmu bukan lah hal itu, melainkan perasaanku yang akan kembali tumbuh karena kebersamaan kita. Kau tau? Jejak langkahmu sudah hancur sejak dulu, berpuih sejalur dengan tanah kering yang tandus dan retak. Kutangisi, kepergianmu yang tanpa berbalik. Kuhanya ingin melihat wajahmu kala itu, meyakinkanku bahwa semua itu benar. Tapi nyatanya salah. Yang benar, kamu masih mencintaiku. Untuk berbalik adalah tantangan terbesar yang berakibat menyakiti hatimu lagi jika tak kuat. Aku tau. Aku salah. Aku memintamu tetap menetap, padahal kamu sudah berusaha berlari. Kedatanganmu untuk hari ini, masih menjadi pertanyaan. Apakah ...