Sebagai perempuan yang kusembunyikan, aku selalu memintamu untuk menetap dalam hubungan yang tak dapat didefinisikan namanya. Teman? Mana ada teman dengan perhatian melebihi seorang kekasih, mana ada teman yang mengkhawatirkan keadaan dan mencemooh ketika tak ada kabar.
Aku melihatmu seperti jingga yang menyempurnakan senja. Senja yang sejatinya mempunyai banyak warna, namun jauh lebih indah jika dengan warna jingga.
Kamu yang selalu memprotes ketika kumulai mengabaikan kecerewetan dan kekonyolan yang sering kamu lakukan. Bukan karena aku tak suka sikapmu, namun aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian, apalagi laki-laki lain. Sekarang mengerti maksudku kan?
Ponselku berbunyi, dan itu artinya dia kembali menghubungiku. Seseorang yang tidak kamu suka, dan nyatanya dia ada dalam hidupku sebelum kamu.
Seperti sebelum-sebelumnya, kamu memilih diam dan memberiku waktu untuk mengangkat telpon darinya.
Entah mengapa, kamu begitu mengerti tentangku. Dan mungkin karena itu aku merasa nyaman denganmu, melebihi dengannya.
Nada suaraku berubah tinggi dalam percakapan dengan perempuan diseberang, lagi-lagi dia mengajakku berdebat dengan hal-hal kecil yang seharusnya tidak dipermasalahkan. Kulirik kamu, kumenjauh beberapa langkah agar kamu tidak mendengar percakapanku yang setiap hari yang selalu berakhir pertengkaran.
Hal seperti ini tak pernah aku rasakan ketika denganmu, kesalahan-kesalahan kecil tidak pernah dipermasalahkan, bahkan selama ini kamu yang selalu mencoba berdamai. Mengapa kamu berbeda dengannya?
Mengapa bukan kamu yang hadir lebih dulu darinya?
Setelah cukup lelah bertengkar dan kupilih mematikan sambungan telpon itu, aku kembali ke kamu yang sudah menyambutku dengan senyuman. Senyuman yang menghangatkan, membuatku sedikit mereda.
"Sudah, kenapa lagi?" Sebenarnya aku bosan mendengar pertanyaan itu darimu, tapi aku tau, kamu jauh lebih bosan melihat pertengkaranku.
Aku menggeleng, "Biasa." Jawabanku setiap pertanyaan itu terlontar darimu.
Kemudian kamu menenangkanku, usapan lembut mendarat dilenganku dan tak lupa senyummu yang terus mengembang. Tapi yang kulihat dimata itu malah ada sebuah luka. Aku menghembuskan napas untuk melegakan rasa sesak yang tiba-tiba karena melihat matamu. Aku balik mengusap lembut pipimu.
Mengapa aku harus menyakitimu dengan hal ini?
"Kenapa?" Aku bertanya, padahal kutau jawabannya karena aku.
Kamu menggeleng, kembali tersenyum untuk meyakinkanku. "Gapapa, kamu yang tenang ya." Kamu masih saja memikirkanku, dan tak peduli dengan hatimu sendiri.
Jika boleh, aku ingin mengulang waktu, aku ingin dipertemukan denganmu lebih dulu daripada dengannya. Karena nyatanya aku jauh lebih mencintaimu, daripada dia, yang hadir beberapa tahun sebelum kamu.
Dan bolehkah lagi, aku bersikap egois. Terus memintamu disini bersamaku, tetap menjadi perempuan yang kusembunyikan entah untuk kapan. Karena aku juga tidak bisa melepaskan dia, sebab sebuah ikatan.
Aku hanya berharap mimpi ini segera menjadi nyata, kamu yang kuharapkan benar-benar untukku dan mendampingiku sampai nanti.
Dari laki-laki yang mencintai dia, tapi jauh lebih mencintaimu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu