Langsung ke konten utama

Dari laki-laki yang menyembunyikanmu

Sebagai perempuan yang kusembunyikan, aku selalu memintamu untuk menetap dalam hubungan yang tak dapat didefinisikan namanya. Teman? Mana ada teman dengan perhatian melebihi seorang kekasih, mana ada teman yang mengkhawatirkan keadaan dan mencemooh ketika tak ada kabar.

Aku melihatmu seperti jingga yang menyempurnakan senja. Senja yang sejatinya mempunyai banyak warna, namun jauh lebih indah jika dengan warna jingga.
Kamu yang selalu memprotes ketika kumulai mengabaikan kecerewetan dan kekonyolan yang sering kamu lakukan. Bukan karena aku tak suka sikapmu, namun aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian, apalagi laki-laki lain. Sekarang mengerti maksudku kan?

Ponselku berbunyi, dan itu artinya dia kembali menghubungiku. Seseorang yang tidak kamu suka, dan nyatanya dia ada dalam hidupku sebelum kamu.
Seperti sebelum-sebelumnya, kamu memilih diam dan memberiku waktu untuk mengangkat telpon darinya.
Entah mengapa, kamu begitu mengerti tentangku. Dan mungkin karena itu aku merasa nyaman denganmu, melebihi dengannya.

Nada suaraku berubah tinggi dalam percakapan dengan perempuan diseberang, lagi-lagi dia mengajakku berdebat dengan hal-hal kecil yang seharusnya tidak dipermasalahkan. Kulirik kamu, kumenjauh beberapa langkah agar kamu tidak mendengar percakapanku yang setiap hari yang selalu berakhir pertengkaran.

Hal seperti ini tak pernah aku rasakan ketika denganmu, kesalahan-kesalahan kecil tidak pernah dipermasalahkan, bahkan selama ini kamu yang selalu mencoba berdamai. Mengapa kamu berbeda dengannya?

Mengapa bukan kamu yang hadir lebih dulu darinya?

Setelah cukup lelah bertengkar dan kupilih mematikan sambungan telpon itu, aku kembali ke kamu yang sudah menyambutku dengan senyuman. Senyuman yang menghangatkan, membuatku sedikit mereda.

"Sudah, kenapa lagi?" Sebenarnya aku bosan mendengar pertanyaan itu darimu, tapi aku tau, kamu jauh lebih bosan melihat pertengkaranku.

Aku menggeleng, "Biasa." Jawabanku setiap pertanyaan itu terlontar darimu.

Kemudian kamu menenangkanku, usapan lembut mendarat dilenganku dan tak lupa senyummu yang terus mengembang. Tapi yang kulihat dimata itu malah ada sebuah luka. Aku menghembuskan napas untuk melegakan rasa sesak yang tiba-tiba karena melihat matamu. Aku balik mengusap lembut pipimu.
Mengapa aku harus menyakitimu dengan hal ini?

"Kenapa?" Aku bertanya, padahal kutau jawabannya karena aku.

Kamu menggeleng, kembali tersenyum untuk meyakinkanku. "Gapapa, kamu yang tenang ya." Kamu masih saja memikirkanku, dan tak peduli dengan hatimu sendiri.

Jika boleh, aku ingin mengulang waktu, aku ingin dipertemukan denganmu lebih dulu daripada dengannya. Karena nyatanya aku jauh lebih mencintaimu, daripada dia, yang hadir beberapa tahun sebelum kamu.

Dan bolehkah lagi, aku bersikap egois. Terus memintamu disini bersamaku, tetap menjadi perempuan yang kusembunyikan entah untuk kapan. Karena aku juga tidak bisa melepaskan dia, sebab sebuah ikatan.
Aku hanya berharap mimpi ini segera menjadi nyata, kamu yang kuharapkan benar-benar untukku dan mendampingiku sampai nanti.

Dari laki-laki yang mencintai dia, tapi jauh lebih mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...