Langsung ke konten utama

Dari perempuan dalam persembunyianmu

Aku menatapmu, mencari kejujuran dari mata yang selalu indah dipandang. Mengapa aku bisa sejatuh ini? Mengapa aku masih disini menemanimu?

Dan dari mata itu, tidak ada satupun kebohongan yang kulihat. Itulah sebab yang membuatku bertahan hingga sekarang, menemanimu sampai kamu sendirilah yang menyuruhku untuk berhenti. Misiku saat ini hanya ingin laki-laki yang kucintai tersenyum bahagia, dan merasakan nyaman ketika bersamaku. Bukan hati bermaksud memintamu dari perempuan lain, yang nyatanya lebih dulu memilikimu, dan mencintaimu mungkin lebih dari yang kurasakan. Detik tak urung terus berputar, dan aku tetap disini menghiraukan dia yang akan sakit jika tau ini semua. Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa sebagai sesama perempuan, aku tak memiliki rasa kasihan? Dan mengapa kamu malah memberiku jalan untuk melakukan ini semua?

Ponsel pun bergetar, itu tandanya dia sedang coba menghubungimu lagi. Kamu mengalihkan pandangan kearahku saat tau siapa yang menelponmu. Dengan endikkan alis, kamu meminta persetujuan dariku, yang sebenarnya tak berpengaruh apapun. Apa hakku melarangmu? Memintamu menetap saja suatu kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Aku mengekangmu seakan aku lah satu-satunya yang kamu miliki, padahal aku hanya menjadi yang kedua, entah untuk sampai kapan.

Kamu mulai menjauh untuk mengangkat telpon, entah kenapa kamu selalu menyembunyikan percakapan kalian, padahal aku hanya ingin tau bagaimana perempuan yang pernah menjatuhkan hatimu itu berbicara, bagaimana suaranya, dan bagaimana perhatiannya. Apakah perhatiannya melebihi aku, yang bukan siapa-siapamu?

Aku kembali terhenyak ketika nada suaramu berubah tinggi, ini yang tidak kusuka. Selalu ada pertengkaran diantara kalian, dan membuatmu bersikap keras. Kamu mengalihkan pandangan kearahku, kemudian menjauh beberapa langkah lagi sampai suaramu lirih dan sulit kudengar. Apakah harus setiap kali berkomunikasi kalian seperti itu? Apakah aku boleh berbangga hati karena setiap denganku, kamu tak pernah seperti itu? Apakah aku boleh menyombongkan diri karena kamu selalu bersikap hangat?

Tidak lama kamu kembali, dan aku selalu melontarkan pertanyaan yang mungkin akan membuatmu bosan. "Sudah, kenapa lagi?"

Aku sebenarnya hanya berbasa-basi, untuk menghilangkan kecanggunganku, bukan bukan, bukan kecanggungan, melainkan rasa cemburu. Sekecil hatiku dan sesempit itu aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku sakit, aku terluka kamu bercakap dengan perempuan yang selama ini ada dalam hidupmu, yang hadir jauh lebih lama dariku. Salahkah aku, hingga menuntutmu untuk bersamaku? Tentu. Kita selalu bersama, hampir setiap hari. Sedangkan kalian? Tidak lebih dari berhubungan lewat media sosial. Dan aku masih iri atas hal ini? Aku telah bersama ragamu setiap hari, betapa egoisnya aku.

Aku mendapatkan jawaban yang selalu sama, gelengan, dan tak coba menjelaskan apa yang terjadi. Menurutmu, perdebatan itu hanya sebuah masalah kecil yang tidak seharusnya dipermasalahkan sebesar itu. Sebagai sesama perempuan, aku tak masalah dengan sikapnya, jarak yang jauh, bisa membuat seorang perempuan bersikap lebih posesif, hanya karena takut kehilangan sosok yang dicintainya. Dan itu tidak salah, apa yang dilakukan perempuanmu itu tidak salah. Yang salah adalah aku, mengapa aku membuatmu berpaling darinya.

Aku mengusap lembut lenganmu, coba menenangkanmu yang mulai tersenyum. Kamu pun berbalik mengusap lembut pipiku, ada yang hangat disana, sesuatu yang selalu membuatku nyaman dan enggan berpaling. Sesuatu yang membuatku ingin memilikimu selamanya. Mencintaimu ternyata tidak semudah ini, ada banyak persembunyian, dan aku harus berada disana. Sampai kapan ini terjadi dan kapan akan berakhir? Kamu tidak bisa meninggalkanku, tapi kamu juga tidak bisa meninggalkannya. Ada banyak perjanjian diantara kalian yang akan sulit kamu putuskan. Lalu bagaimana denganku? Apa aku ada dimasa depanmu? Apa kamu pernah berpikir aku ada bersama dikehidupanmu selanjutnya, seperti yang aku mimpikan selama ini. Atau kah ini hanya sementara, dan nanti kamu akan kembali kepadanya, menolak permintaanku untuk menetap. Entahlah, ada masanya kamu memutuskan ini semua, memilih dua perempuan yang hanya bisa kamu miliki salah satu, dan aku mulai sekarang belajar membangun pertahanan agar nanti ketika apa yang tak kuharapkan terjadi, aku tak terlalu sakit.

Dari perempuan dalam persembunyianmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...