Aku menatapmu, mencari kejujuran dari mata yang selalu indah dipandang. Mengapa aku bisa sejatuh ini? Mengapa aku masih disini menemanimu?
Dan dari mata itu, tidak ada satupun kebohongan yang kulihat. Itulah sebab yang membuatku bertahan hingga sekarang, menemanimu sampai kamu sendirilah yang menyuruhku untuk berhenti. Misiku saat ini hanya ingin laki-laki yang kucintai tersenyum bahagia, dan merasakan nyaman ketika bersamaku. Bukan hati bermaksud memintamu dari perempuan lain, yang nyatanya lebih dulu memilikimu, dan mencintaimu mungkin lebih dari yang kurasakan. Detik tak urung terus berputar, dan aku tetap disini menghiraukan dia yang akan sakit jika tau ini semua. Mengapa aku sebodoh ini? Mengapa sebagai sesama perempuan, aku tak memiliki rasa kasihan? Dan mengapa kamu malah memberiku jalan untuk melakukan ini semua?
Ponsel pun bergetar, itu tandanya dia sedang coba menghubungimu lagi. Kamu mengalihkan pandangan kearahku saat tau siapa yang menelponmu. Dengan endikkan alis, kamu meminta persetujuan dariku, yang sebenarnya tak berpengaruh apapun. Apa hakku melarangmu? Memintamu menetap saja suatu kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Aku mengekangmu seakan aku lah satu-satunya yang kamu miliki, padahal aku hanya menjadi yang kedua, entah untuk sampai kapan.
Kamu mulai menjauh untuk mengangkat telpon, entah kenapa kamu selalu menyembunyikan percakapan kalian, padahal aku hanya ingin tau bagaimana perempuan yang pernah menjatuhkan hatimu itu berbicara, bagaimana suaranya, dan bagaimana perhatiannya. Apakah perhatiannya melebihi aku, yang bukan siapa-siapamu?
Aku kembali terhenyak ketika nada suaramu berubah tinggi, ini yang tidak kusuka. Selalu ada pertengkaran diantara kalian, dan membuatmu bersikap keras. Kamu mengalihkan pandangan kearahku, kemudian menjauh beberapa langkah lagi sampai suaramu lirih dan sulit kudengar. Apakah harus setiap kali berkomunikasi kalian seperti itu? Apakah aku boleh berbangga hati karena setiap denganku, kamu tak pernah seperti itu? Apakah aku boleh menyombongkan diri karena kamu selalu bersikap hangat?
Tidak lama kamu kembali, dan aku selalu melontarkan pertanyaan yang mungkin akan membuatmu bosan. "Sudah, kenapa lagi?"
Aku sebenarnya hanya berbasa-basi, untuk menghilangkan kecanggunganku, bukan bukan, bukan kecanggungan, melainkan rasa cemburu. Sekecil hatiku dan sesempit itu aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku sakit, aku terluka kamu bercakap dengan perempuan yang selama ini ada dalam hidupmu, yang hadir jauh lebih lama dariku. Salahkah aku, hingga menuntutmu untuk bersamaku? Tentu. Kita selalu bersama, hampir setiap hari. Sedangkan kalian? Tidak lebih dari berhubungan lewat media sosial. Dan aku masih iri atas hal ini? Aku telah bersama ragamu setiap hari, betapa egoisnya aku.
Aku mendapatkan jawaban yang selalu sama, gelengan, dan tak coba menjelaskan apa yang terjadi. Menurutmu, perdebatan itu hanya sebuah masalah kecil yang tidak seharusnya dipermasalahkan sebesar itu. Sebagai sesama perempuan, aku tak masalah dengan sikapnya, jarak yang jauh, bisa membuat seorang perempuan bersikap lebih posesif, hanya karena takut kehilangan sosok yang dicintainya. Dan itu tidak salah, apa yang dilakukan perempuanmu itu tidak salah. Yang salah adalah aku, mengapa aku membuatmu berpaling darinya.
Aku mengusap lembut lenganmu, coba menenangkanmu yang mulai tersenyum. Kamu pun berbalik mengusap lembut pipiku, ada yang hangat disana, sesuatu yang selalu membuatku nyaman dan enggan berpaling. Sesuatu yang membuatku ingin memilikimu selamanya. Mencintaimu ternyata tidak semudah ini, ada banyak persembunyian, dan aku harus berada disana. Sampai kapan ini terjadi dan kapan akan berakhir? Kamu tidak bisa meninggalkanku, tapi kamu juga tidak bisa meninggalkannya. Ada banyak perjanjian diantara kalian yang akan sulit kamu putuskan. Lalu bagaimana denganku? Apa aku ada dimasa depanmu? Apa kamu pernah berpikir aku ada bersama dikehidupanmu selanjutnya, seperti yang aku mimpikan selama ini. Atau kah ini hanya sementara, dan nanti kamu akan kembali kepadanya, menolak permintaanku untuk menetap. Entahlah, ada masanya kamu memutuskan ini semua, memilih dua perempuan yang hanya bisa kamu miliki salah satu, dan aku mulai sekarang belajar membangun pertahanan agar nanti ketika apa yang tak kuharapkan terjadi, aku tak terlalu sakit.
Dari perempuan dalam persembunyianmu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu