Langsung ke konten utama

Seperti hujan yang Menghujamkan Diri ke Bumi

Diluar hujan turun dengan derasnya, buliran air yang menghujamkan diri pada bumi sebagai penghabisan rindu. Dedaunan layu sebab air melewatinya tanpa maaf, hingga tergugurlah sebelum masanya.
Angin berhembus cukup kuat, memporak porandakan yang lemah, menjatuhkan yang rapuh.
Disudut jalan, tepatnya didepan rumah yang penghuninya memilih untuk tidur dan berlindung dibawah meja. Seorang gadis berteduh, mengibaskan sebagian pakaiannya yang basah karena hujan. Matanya menyusuri jalanan, andai dia tak sendirian.

Dia baru saja dari persimpangan, menantikan yang dirindukan.
Berjam-jam, dan akhirnya tersadarlah bahwa semuanya sudah berakhir lama. Ketika pamit yang urung diingkari.
Gadis itu berharap hanya mimpi, ucapan pamit perpisahan itu hanya bualan karena lelah. Tapi ternyata tidak, semuanya sudah berakhir waktu itu juga, tanpa terkecuali harapan dan mimpi untuk melawan waktu bersama. Jarak menghabisinya hingga berdarah-darah.

Hujan seakan menguarkan airmatanya lagi, sebagai topeng diri yang terlihat baik-baik saja.

Lelah, setiap terbangun, harapan itu berusaha dienyahkannya. Mencari alasan untuk membencinya. Menguarkan apa yang seharusnya sudah tidak ada. Tapi apa? Gadis itu hingga bersikap masa bodoh seperti sekarang, masih sering mengunjungi persimpangan hanya untuk melihatnya meski sekilas, bersyukur jika disapa.

Hujan bercampur angin membuatnya menggigil, usapan tangannya dilengan tak berarti apapun untuk mengurangi keresahan. Sesulit inikah? Seperti hujan yang lagi-lagi jatuh kebumi, meski akhirnya tetap menghilang diperbatasan tanah.

"Kenapa?"

Pertanyaan itu membuatnya terhenyak, lengannya yang kedinginan tiba-tiba terasa hangat. Sebuah kain tebal menutupi lengan dan tangannya, kemudian mencari sosok yang telah berbaik hati membantunya.

"Kamu?"

Matanya nyalang dan berubah sendu, apa ini mimpi? Sedang hujan membuatnya terus tersadar.

"Apa yang kamu lakukan tadi dipersimpangan?"

Kalimat itu sedingin udara hari ini, mencuri segala oksigen yang harusnya dihirup bebas olehnya.

"Hanya mengingat kembali yang pernah terjadi dulu."

Tak berarti juga ingin mengulangnya, cukup mengingat. Karena seperti harapan dulu yang sudah dibumi hanguskan oleh laki-laki itu. Membawanya jauh keantartika hingga tak bermuara. Sejauh itu rasa yang dia hilangkan, sampai ruang tak bernyawa dimilikinya.

"Baiklah. Cepat pulang. Hujan mulai reda."

Dia berlalu, menembus hujan dan tak menghiraukan. Apa maksudnya? Kembali hanya untuk memberi sapa, dan menyisakan rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...